Total Tayangan Halaman

Senin, 05 Mei 2008

Press Gathering ''Jungle to Millenia'' Telkomsel di Bali



Tidur di ''Pondok'', Arungi Jeram di Sungai Ayung

      Ada perasaan lain ketika roda pesawat Airbus A 330-300 milik Garuda Indonesia menyentuh landasan pacu Bandara Ngurah Rai Bali, Sabtu (15/12/2007) lalu. Di saat ratusan wartawan dari seluruh dunia meninggalkan Pulau Dewata ini usai meliput kegiatan United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), malah saya dengan puluhan wartawan media cetak asal Sumatera mendatangi pulau ini.
    Memang, kedatangan kami ke pulau yang sangat terkenal ke seantero dunia ini tidaklah untuk meliput kegiatan pertemuan para pemimpin dunia demi penyelamatan bumi itu. Kunjungan saya ke Bali yang kali kedua ini untuk mengikuti press gathering yang digelar oleh PT Telkomsel.
Bagi Telkomsel Area Sumatera, ini merupakan kali pertama mengajak puluhan wartawan dari sembilan provinsi di Pulau Sumatera. Biasanya, kegiatan serupa digelar di tempat-tempat menarik di Sumatera. Namun kali ini Telkomsel ingin membuatnya beda demi kepuasan mitra pers yang turut membesarkan operator selular sehingga menjadi market leader di Indonesia.
   ''Kita ingin beda dengan kegiatan press gathering sebelumnya dan Bali ini saya yang mengusulkan,'' kata Ahmad Yunus, Vice President Sumatera Area Telkomsel, saat memberikan sambutan di depan puluhan wartawan.
   Menurut Ahmad Yunus, dipilihnya Bali sebagai tempat gathering untuk para jurnalis yang selama ini menjadi mitra kerja Telkomsel, karena di samping faktor keindahan alam serta kekayaan budayanya juga dilandasi pemikiran, bahwa Bali yang di mata internasional adalah Indonesia, harus diselamatkan.
   Sebab, katanya, pasca ledakan Bom Bali posisi Indonesia begitu rapuh, begitu mudahnya negara-negara asing mengeluarkan travel warning, begitu entengnya pihak asing membuat image miring.
     ''Acara bertajuk Stick Together With Telkomsel Jungle to Millenia serasa serasi digelar di Bali, karena Bali masih mempunyai jungle. Sementara interaksi sosial dan peradaban sudah mengarah ke millenia,'' ungkap Ahmad Yunus.
   Dengan serangkaian agenda, katanya, para juru warta diajak menikmati suasana. Melihat hamparan sawah yang diyakini bisa membuang susah, menatap indahnya pantai bikin santai, panorama gunung menghapus hati yang murung, belanja barang-barang seni membawa kedamaian hati.

Atap Rumbia, Tak Ada TV

    Dari Bandara Ngurah Rai, saya dan rombongan bertolak ke Ubud. Hampir satu jam setengah, bus yang membawa rombongan baru sampai di penginapan di tengah malam yang sudah begitu larut. Ya...malam itu dan malam berikutnya kami diinapkan di Hotel Ananda Cottage.
Dari jalan, tidak ada kesan mewah akan adanya hotel. Plangnya memang ada, tapi pintu masuk ke hotel hanya ada bangunan kecil. Itupun pintu masuknya cukup untuk satu orang saja. Kesan ''angker'' benar-benar terasa. Apalagi patung-patung ''seram'' berdiri di setiap sudut ruangan.
    Setelah mendapatkan kunci, saya dan beberapa kawan wartawan menuju ke kamar masing-masing. Namun kami harus menunggu giliran untuk diantar. Soalnya, menjelang dinihari itu lokasi kamar benar-benar tidak diketahui karena letaknya saling berjauhan.
Karena masih begitu asing, kami diantar lebih memilih bergerombolan. Melewati sawah-sawah, satu persatu kami ditunjukkan kamar sesuai kunci yang sudah dipegang. Bulu kuduk kian merinding tatkala ada patung seram berdiri di depan kamar yang akan ditempati. ''Saya gabung sajalah, biar kita bertiga sekamar,'' kata seorang wartawan yang kebetulan dapat kamar sendirian.
    Ananda Cottage benar-benar alami. Dan kesan ini pulalah yang banyak dijual di Bali. Gaya pintu kamar tak terlepas dari kesan Hindu. Banyak ukiran-ukiran, ukurannya kecil sebagaimana pintu pura yang bertebaran di daerah ini. Atapnya terbuat dari daun rumbia.
   Yah, kesan alami dan ingin bebas dari pengaruh luar kembali terasa, saat saya melihat seisi ruangan. Semuannya serba kayu. Tak ada televisi sebagaimana hotel-hotel biasanya. Syukurnya, masih ada air conditioner (AC) plus kipas angin. Kami pun tertidur pulas dan tak tahulah apa yang terjadi saat kami tidur.
  Minggu (16/12) pagi, setelah sarapan dari rundown acara yang dibagikan panitia ada satu kegiatan bernama rafting. Tempatnya di Sungai Ayung masih di Ubud. Ya, rafting atau kalau di Indonesiakan menjadi arung jeram menjadi kegiatan penting pada hari itu.
   Bagi saya dan mungkin kawan-kawan wartawan lainnya, ini kali pertama ikut arung jeram. Biasanya, hanya melihat di televisi. ''Waw, ini baru tantangan,'' celetuk beberapa wartawan saat baju pelampung, helm dan dayung sudah di tangan masing-masing.
Untuk ikut arung jeram, masing-masing perahu diisi lima orang plus satu orang pemandu yang sudah mahir menggunakan perahu karet. Setelah mendengarkan pengarahan soal arung jeram, satu persatu wartawan dibawa ke Sungai Ayung.
   Perjalanan ke Sungai Ayung tak kalah menantang. 400 tangga harus dilewati dengan medan curam. Benar-benar menggigil kaki ini dibuatnya. Menggigil bukan karena takut dengan ketinggian, tapi karena kaki tak kuat lagi menopang badan untuk menuruni tangga.
Keletihan hilang tatkala anak tangga terakhir dijejaki. Puluhan perahu karet sudah menunggu di tepi Sungai Ayung. Dengan komando pemandu, masing-masing grup menaiki perahu karet yang siap meluncur di derasnya Sungai Ayung penuh batu-batu besar dan menantang.
   Rasa ngeri saat menonton arung jeram di televisi perlahan sirna. Kini yang tinggal rasa asyik dan penuh tantangan. Untungnya, pagi itu, air Sungai Ayung tidak terlalu besar. Bagi pemula seperti kami, tidaklah terlalu susah mengawaki perahu karet dengan kondisi air seperti itu.
Dari lokasi start untuk mencapai finish diperlukan waktu tempuh dua jam. Kiri kanan Sungai Ayung masih terlihat alami. Menurut Wayan, seorang pemandu, setiap hari Sungai Ayung dipadati orang-orang yang ingin rafting. ''Ini saja tadi orang dari Jepang mau makai, tapi sudah habis diborong Telkomsel, ya mereka pindah ke pengelola rafting lainnya yang banyak bertebaran di Ubud,'' katanya sambil mendayung perahu.
   Di tengah perjalanan, di tepi sungai puluhan ibu-ibu dan gadis-gadis penjaja makanan berdiri sambil menawarkan minuman dan kue-kue kecil. Terserah Anda mau beli atau tidak. Kalau mau beli, mereka akan antarkan ke perahu.
   Setelah dua jam perjalanan, akhirnya lokasi finish sudah terlihat. Puluhan perahu karet merapat ke tepi. Semua perlengkapan rafting dilepas dan semua peserta membersihkan diri di tempat yang telah disediakan pengelola rafting.
   Saya sempat kepikiran, perahu dan perlengkapannya bagaimana cara membawanya ke hulu kembali. Mata saya tertuju pada sekelompok ibu-ibu yang berdiri tidak jauh dari tepi sungai. Satu persatu mereka mengemasi perlengkapan rafting. Lalu ada yang mengempesi perahu karet, digulung, diikat lalu diletakkan di atas kepala.
    Ooooo, jadi mereka yang akan mengemasi itu semua. Ternyata itulah pekerjaan ibu-ibu di sana. Mereka mendapatkan gaji bulanan dari pengelola rafting. ''Kalau lagi ramai, mereka bisa terima Rp2 atau Rp3 juta perbulan dari upah angkat,'' kata Made, seorang karyawan pengelola rafting.
    Uang sebanyak itu jangan buat Anda berkata wah dulu. Rute untuk sampai ke jalan besar, saya harus melewati 400 lebih tangga lagi. Kali ini tentu mendaki. Medannya...ya...tak jauh beda dengan di hulu. Memang tidak membuat kaki menggigil, tapi lutut dan betis yang ditanyanya.
Nah...jalur inilah yang ditempuh ibu-ibu tersebut. Saya yang hanya membawa badan saja sudah besar-besar nafas hingga mencapai puncak, apatah lagi kalau bawa beban. Namun, bagi ibu-ibu itu karena mungkin sudah biasa dan tuntutan hidup, semuanya dijalani tanpa rasa lelah.
   Dari lokasi rafting, perjalanan dilanjutkan ke Pasar Kintamani dan Sukowati. Inilah saatnya menghabiskan isi kantong. Di pasar ini pernak-pernik Bali tersedia sekadar oleh-oleh buat karib kerabat. Semuanya terserah Anda, namun harus pandai-pandai menawar.
   Minggu malam, seluruh insan pers dibawa ke Royal Pitamaha untuk gelaran Awarding Night Telkomsel Jungle to Millenia. Tempatnya masih di Ubud. Royal Pitamaha ini letaknya di tengah-tengah hutan yang sengaja diciptakan. Jalan dari pintu gerbang menuju Royal Pitamaha serasa dalam hutan lebat.
   Ya...itulah Ubud yang selalu mempertahankan ciri kedesaannya. Alam Ubud yang mempesona didukung dengan seniman-seniman trampil dan masyarakat ramah bersahaja menjadikan daerah ini mampu menyedot wisatawan.
   Ubud Art Market bagai surga bagi pecinta barang-barang seni. Sebab di pasar ini harga yang dipatok tak mahal, padahal kualitas dan cita seninya begitu tinggi. Di Ubud ini ada namanya Tohpati yang merupakan satu desa yang tersohor dengan kerajinan batiknya.
Lalu ada Celuk, desa dengan kerajinan peraknya. Lantas ada Batuan. Di sini terkenal dengan seni lukisnya. Di desa ini kita bisa lihat arsitektur rumah Bali serta aktivitas keseharian masyarakat Bali, mulai dari beternak hingga bikin sesajen.
   Untuk patung-patung kayu, ada Desa Kemenuh. Saking kondangnya desa ini ada satu versi yang menyatakan Bebeto sang pematung Pinokio pernah belajar di desa ini. Meskipun patung yang dibuat berbahan kayu, tapi para seniman Kemenuh tak setuju dengan illegal logging.
   Senin (17/12) pagi, saya dan beberapa wartawan harus diantar langsung ke bandara. Persoalannya, kami harus diterbangkan ke Jakarta pagi itu karena tidak dapat tiket siang. Rombongan kami terbang ke Jakarta dengan pesawat Boeing 737-900 ER milik Lion Air. Untung juga, akhirnya bisa mencoba pesawat baru dan Lionlah salah satu maskapai pertama yang mengoperasikan pesawat ini di dunia.
    Yang kebagian berangkat siang dibawa ke Pantai Kuta. Kata orang sih, belum afdhol kalau ke Bali sebelum mengunjungi Pantai Kuta. Tapi itulah, semuanya tergantung takdir Allah. Dua kali saya ke Bali, kedua-duanya tidak sempat ke Pantai Kuta. Syukur.....(mhd nazir fahmi)

Drive Test Signal Telkomsel di Sumatera

Bukittinggi-Pekanbaru 99 Persen Terlayani

Jalur Pekanbaru-Bukittinggi hingga Padang ternyata punya nilai lebih tersendiri bagi PT Telkomsel. Dulu, menjelang Idul Fitri tahun 2006, Direktur Utama Telkomsel Kiskenda Suriahardja dan jajaran network perusahaan seluler ini melakukan perjalanan darat dari Pekanbaru hingga ke Padang untuk melakukan tes signal alias drive test. Sabtu (19/4), jalur ini pun kembali jadi pilihan lokasi drive test untuk mewakili Sumatera.

Catatan Mhd Nazir Fahmi, Pekanbaru
      KALAU 2006 start drive test-nya dari Pekanbaru-Bukittinggi dan finish di Padang, Sabtu lalu kebalikannya. Starnya dari Padang lalu Bukittinggi dan finisnya di Pekanbaru. Menurut Andreuw Thaf, VP Network Operation Telkomsel, pelaksanaan drive test di jalur Padang-Bukittinggi-Pekanbaru berbarengan dengan di empat tempat lainnya di Indonesia. Untuk Sumatera, jalur inilah yang mewakili.
Di Pulau Jawa, kata Andreuw, pelaksanaan drive test dilakukan dari Bandung ke Bogor. Lalu dari Semarang ke Jogjakarta. Di Kalimantan, drive test diadakan dari Balikpapan menuju Bontang dan Sulawesi dari Ujungpandang ke Pare-pare. ''Pelaksanaannya serentak dan bersamaan di lima tempat tersebut,'' kata Andreuw.
      Dengan menggunakan bus, puluhan wartawan dari Sumatera dilibatkan dalam drive test tersebut. Selain dua alat ukur drive test punya Telkomsel, puluhan wartawan juga diminta melakukan tes signal dari Padang-Bukittinggi hingga Pekanbaru. Hasilnya, benar-benar menggembirakan buat pelanggan Telkomsel dan buat perusahaan sendiri.
Dari hasil drive test, sebagaimana diungkapkan Sigit Riyanto, GM Network Operation Regional Sumbagteng, dari Padang hingga Bukittinggi, 100 persen jalur ini tercover oleh signal Telkomsel dengan prediket bagus. Dari Bukittinggi hingga Pekanbaru, 99 persen sudah terlayani signal Telkomsel dan masyarakat bisa berkomunikasi dengan baik.
      ''Ada beberapa tempat di jalur ini signal Telkomsel hilang dan timbul. Seperti di sekitar Kelok Sembilan, sama sekali hilang. Serta di beberapa tempat menjelang Muara Mahat,'' katanya.
Pekanbaru Pos yang juga melakukan drive test dengan ponsel, ternyata mendapati hal lain. Di Kelok Sembilan, masih ada tiga garis signal Telkomsel dan bisa dipakai untuk berkomunikasi. Namun menurut, Sigit, itu terjadi karena pantulan acak signal dari BTS dari Lubukbangku.
Namun kalau dibandingkan dengan hasil drive test 2006 lalu, kahadiran signal Telkomsel di jalur Bukittinggi-Pekanbaru mengalami kenaikan hampir 100 persen. Kalau pada drive test yang Pekanbaru Pos ikuti 2006 lalu, lepas dari Rantau Berangin, signal Telkomsel menghilang dan baru dapat di Lubukbangku. Beberapa kilometer signalnya hilang.
      Tapi sekarang, jalur ini benar-benar sudah aman untuk berkomunikasi. Kalau pun putus hanya beberapa detik, lalu signal Telkomsel muncul kembali. Seperti di kawasan Kelok Sembilan itu hilangnya signal hanya 17 detik dengan kecepatan mobil 30 kilometer perjam. Lalu selepas Rumah Makan Natrabu arah Pekanbaru,menjelang waduk PLTA Kotopanjang sebelum Muara Mahat.
   Menurut GH Widodo, GM Telkomsel Sumbagteng, kegiatan drive test ini dalam rangka memberikan transparansi kepada masyarakat. Telkomsel mengundang pers mewakili masyarakat untuk melihat kualitas network. Semua ini dengan harapan wartawan bisa mengeksplor dan memberi masukan kepada Telkomsel demi kenyamanan pelanggan.
Selain drive test, di Bukittinggi Telkomsel mengadakan bakti sosial dan memberi bantuan 30 tong sampah buat Pemko Bukittinggi dan santunan kepada empat Yayasan Yatim Piatu yang berada di Bukittinggi.(*)

Kreativ di Tengah Kompetisi

(Fenomena Pedagang Pasar Kaget di Pekanbaru)

Oleh Mhd Nazir Fahmi

DI tengah maraknya pasar-pasar modern, kehadiran pasar tradisional tetap dibutuhkan. Namun di beberapa tempat di Kota Pekanbaru pasar tradisional mulai mati suri. Pasar-pasar tradisional mulai ditinggal oleh pedagang karena sepinya pembeli yang datang. Malah ada pasar tradisional yang dibuat oleh pemerintah kota seperti di Jalan Arifin Ahmad jadi mubazir karena sangat sedikit pedagang yang mau berjualan di lokasi tersebut. Ada yang berjualan di lokasi tersebut akhirnya gulung tikar karena tidak ada pembeli.
Menurut pedagang, salah satu penyebab sepinya beberapa pasar tradisional yang dibangun Pemko Pekanbaru karena munculnya pasar kaget di lingkungan-lingkungan perumahan. Di pasar kaget para pedagang menggelar jualan sembilan kebutuhan pokok dengan menjadwal hari berjualan di beberapa tempat yang dimulai pukul 15.30 hingga pukul 18.30 satu minggu sekali. Misalnya, hari Minggu pasar kaget ada di dekat perumahan di Jalan Purwodadi, Panam. Senin sore di Perumahan Graha Rajawali Permai dan Widya Graha Kelurahan Delima, Selasa hingga Sabtu di tempat lain.
Kehadiran pedagang pasar kaget ini benar-benar dimanfaatkan oleh warga perumahan. Sebagian besar ibu-ibu menunggu pasar kaget digelar setiap pekan dan mereka membeli berbagai kebutuhan yang terkadang untuk satu minggu. Kian hari jumlah pedagang makin banyak berada di pasar kaget. Mereka beralasan lebih menguntungkan jualan di pasar kaget dari pada di pasar yang sudah tersedia sebelumnya.
Fenomena pasar kaget di Kota Pekanbaru ini sangat berbeda dengan pasar-pasar kaget di beberapa daerah di Indonesia. Di Bandung misalnya, warga kota mengistilahkan pasar kaget karena pedagang berjualan secara temporer di suatu tempat memakai ruang terbuka kota. Pasar kaget ini muncul pada Minggu pagi dengan menjajakan berbagai kebutuhan warga kota.
Kehadiran pasar kaget secara positif adalah suatu fenomena bentuk kreatifitas warga dalam berdagang, namun dalam pandangan negatif barangkali adalah fenomena yang menggambarkan tingkat urbanisasi di Kota Pekanbaru yang memperlihatkan tingginya angka pencari kerja atau memerlukan lapangan kerja. Sesuatu yang menarik dari pasar kaget ini adalah kehadirannya yang menempati ruang-ruang tertentu di perumahan.
Memang, di satu perumahan pasar kaget akan hadir satu kali dalam seminggu. Namun, para pedagang tidak hanya tertumpu pada satu tempat. Besoknya di perumahan lain, lusa di lain tempat lagi hingga satu minggu. Para pedagang kembali menghidupkan hari pasar di lingkungan warga kota.
Kita mungkin mengenal Pasar Senen. Pasar Senen saat adalah suatu kawasan bisnis yang terletak di Jakarta Pusat. Pada awalnya pasar ini merupakan pasar tradisional yang dibanguan oleh Justinus Cornelis Vincke tahun 1730. Dinamakan Pasar Senen karena hanya dibuka pada setiap hari Senin saja. Kita tentunya juga mengenal Pasar Rebo (Rabu), Pasar Jumat atau yang paling terkenal adalah Pasar Minggu. Konon pasar-pasar tersebut digelar hanyapada hari-hari tertentu saja, sesuai dengan penamaan lokasi pasar-pasar tersebut di kemudian hari.
Di beberapa tempat, pelosok desa maupun kota di seluruh tanah air, mungkin masih banyak dijumpai jenis pasar tradisional yang digelar hanya pada hari-hari tertentu saja dalam sepekan. Lahan yang digunakan dapat berupa ruang terbuka yang bukan diperuntukkan sebagai pasar, maupun lahan yang telah diperuntukkan sebagai pasar. Sebagai contoh, pasar tradisional di Pauh (Jambi), Muara Badak (Kutai Kartanegara-Kalimantan Timur), atau pasar di Martapura (Kalimantan Selatan). Di beberapa daerah ini, pasar tradisional yang digelar hanya pada hari tertentu saja yaitu hari Jumat misalnya, tidak dengan sendirinya dinamakan Pasar Jumat. Masyarakat setempat lebih mengenalnya sebagai hari pasar atau di beberapa daerah di Sumatera Barat disebut sebagai hari pasa (hari pasar).
Ya, ini adalah suatu kreativitas dari pedagang. Ini terjadi karena makin tingginya kompetisi di tengah-tengah warga kota. Agar bisa menang dalam kompetisi, individu dituntut selalu berkreativitas. Menurut Hurlock (1978), kreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru, apakah suatu gagasan atau suatu objek dalam suatu bentuk atau susunan yang baru.
Proses kreativ muncul dalam tindakan suatu produk baru yang tumbuh dari keunikan individu di satu pihak, dan dari kejadian, orang-orang, dan keadaan hidupnya di lain pihak (Rogers, 1982). Penekanan adalah pada aspek baru dari produk kreativ yang dihasilkan serta aspek interaksi antara individu dan lingkungannya atau kebudayaannya.
Menurut Alvin (1983), kreativitas adalah suatu proses upaya manusia atau bangsa untuk membangun dirinya dalam berbagai aspek kehidupannya. Tujuan pembangunan diri itu ialah untuk menikmati kualitas kehidupan yang semakin baik. Kreativitas juga diartikan suatu proses yang tercermin dalam kelancaran, kelenturan (fleksibilitas) dan originalitas dalam berfikir (Utami Munandar, 1977).
Sementara kompetisi atau persaingan diartikan melakukan sesuatu dengan maksud hendak melebihi orang lain (S Wojowasito, 1999). Secara umum kompetisi diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan istilah persaingan. Kompetisi merupakan bentuk interaksi sosial disosiatif yang sederhana. Proses ini adalah proses sosial yang mengandung perjuangan untuk memperebutkan tujuan-tujuan tertentu yang sifatnya terbatas, yang sama-sama bermanfaat untuk mempertahankan suatu kelestarian hidup.
Persaingan dapat terjadi dan berlangsung di berbagai bidang. Persaingan di bidang ekonomi adalah salah satu contoh yang dari hari ke hari kita saksikan. Persaingan ekonomi ini terjadi karena terbatasnya persediaan apabila dibandingkan dengan jumlah konsumen yang menghendaki barang yang ditawarkan dari persediaan itu. Di lain pihak, persaingan ekonomi juga terjadi karena terbatasnya jumlah konsumen yang berdaya beli apabila dibandingkan dengan jumlah barang yang dilemparkan ke pasar oleh para produsen.
Persaingan seperti inilah yang terjadi pada pedagang pasar tradisional di Kota Pekanbaru. Jumlah konsumen terbatas --bisa disebabkan tidak adanya infrastruktur pendukung atau mobilitas ke tempat berjualan-- akhirnya para pedagang berinisiatif lari dari lokasi itu dan membentuk komunitas baru di tengah-tengah konsumen. Kehadirannya begitu dinantikan warga kota. Pasar kaget sudahmulai membius masyarakat kelas bawah di perumahan. Apakah ini akan menimbulkan fenomena baru? Kita tunggu saja.***

Penulis adalah wartawan dan mahasiswa Pascasarjana Universitas Riau, kajian Unban Studies.

Minggu, 20 Januari 2008

Jamarat Tak Menakutkan Lagi

Melontar jumrah adalah salah satu wajib haji yang cukup disanksikan oleh jamaah haji. Tidak hanya jamaah haji Indonesia, tapi hampir semua jamaah terkadang membayangkan hal-hal menakutkan akan terjadi saat melontar di Mina ini.

Catatan MHD NAZIR FAHMI
mnazirfahmi@riaupos.com

APA yang ditakutkan itu sangat wajar adanya. Hampir semua kasus besar saat musim haji, terjadi saat melontar jumrah. Masih ingat dengan tragedi Mina kan? Ribuan orang jamaah haji meninggal saat akan melontar ini karena berdesakan di terowongan. Tahun-tahun berikutnya, sering juga terjadi saling berdesakkan saat melontar. Korban-korban pun berjatuhan.
Alhamdulillah, mulai haji 2006, semua ketakutan itu sirna. Lokasi jamarat benar-benar lapang dan longgar. Pemerintah Arab Saudi melalui Administrasi Pusat Proyek Perluasan Kementrian Pelayanan dan Pedesaan benar-benar mengatur segala hal menyangkut tempat melontar tersebut.
Usai melontar pada musim haji 2005 lalu, pemerintah Arab Saudi langsung merubuhkan bangunan jamarat untuk dibangun menjadi lima lantai. Untuk haji 2006, mereka menargetkan bisa dipakai lantai dasar dan lantai I. Benar saja, empat hari jelang melontar, jamarat sudah bisa dipergunakan.
Target mereka benar-benar tercapai. Tidak ada kata-kata molor dalam pengerjaan proyek. Pihak pemborong bekerja 24 jam setiap hari. Saat digunakan untuk melontar, kren-kren besar masih berdiri. Usai haji 2006, lantai berikutnya juga akan dikebut hingga selesai jadi lima.
Saat haji 2006, tidak ada lagi jalan layang menuju jamarat. Pintu masuk ke lokasi melontar dibuat tiga arah. Ada jalan masuk tengah, kiri dan kanan. Pada jalan masuk, juga dibuat pagar-pagar pembatas seperti zig-zag.
Badan jamarat pun sangat lebar dan besar. Untuk menghindari cedera karena terjepit ke tembok tempat melontar, pemerintah Saudi memasang busa di dinding. Kalau pun berdesakan karena ingin dekat dengan tiang jumrah, badan tidak akan cedera karena tergeser tembok.
Jalan ke luar pun dibagi tiga. Ada yang lurus, belok kanan dan belok kiri. Para pelontar yang akan pergi tidak akan bertemu dengan yang akan pulang. Jalannya pun sangat lebar. Jarak beberapa meter, petugas dari Saudi berdiri. Sebagian mereka membuat pagar betis agar tidak ada jamaah yang mengambil jalan sembarangan.
Walaupun begitu, pemerintah Saudi tetap mengeluarkan himbauan agar tidak melontar saat jam-jam sibuk. Seperti pada 10 Zulhijah, jam sibuknya dari pukul 06.00 pagi sampai pukul 11.00 siang. Untuk 11 Zulhijah dari pukul 13.00 hingga pukul 18.00 dan 12 Zulhijah dari pukul 10.00 hingga 15.00.
Tahun ini, petugas Saudi benar-benar tegas dalam mengatur lokasi melontar ini. Bagi jamaah yang duduk-duduk atau ada yang malah menginap di lokasi jamarat diusir. Kalau tidak tegas, bakal penuh jalanan ke jamarat dengan jamaah. Apalagi sebagian besar jamaah tinggalnya cukup jauh dari jamarat.
Untuk tahun ini, jamaah haji plus Muhibbah Mulia Wisata Pekanbaru sangat bersyukur. Tenda tempat menginap di Mina sangat dekat dengan lokasi jamarat. Jaraknya hanya 500 meter dan untuk tenda jamaah haji di luar Arab Saudi, tenda ini lokasinya paling dekat. Dari tenda, jamaah bisa memantau kondisi jamarat. Atau pergi ke tv monitor yang ada di Maktab yang menayangkan siaran langsung kondisi jamarat. Kalau lagi sepi, jamaah langsung pergi melontar.
Melontar pada 12 Zulhijah, petugas dari Saudi semakin tegas. Apalagi hampir 2/3 jamaah haji mengambil nafar awal dan ingin ke luar Mina sebelum 13 Zulhijah. Jutaan jamaah haji pergi melontar sambil menenteng barang bawaan dan langsung ke luar Mina.
Petugas mengambil tindakan tegas. Tidak satupun jamaah diperbolehkan membawa barang tentengan berupa tas besar ke lokasi jamarat. Ingin melontar, harus ditinggalkan barang bawaan. Hasilnya, jutaan tas dan barang bawaan menumpuk di lokasi pintu masuk ke jamarat.
Konstruksi jamarat pun benar-benar terlihat kokoh. Kalau lima lantainya sudah jadi dan selesai, maka lokasi melontar akan dibagi per benua. Tentu saja, untuk benua Asia bisa jadi diperuntukkan dua lantai. Apalagi dari Asia Tenggara, jamaah hajinya sangat besar. Insya Allah, untuk tahun-tahun mendatang, lokasi ini akan lebih nyaman dan aman.
Tidak hanya jamarat, untuk tahun mendatang, bisa jadi jamaah haji plus tidak akan merasakan indahnya tidur di tenda Mina lagi. Pasalnya, saat ini beberapa buah hotel sudah dibangun di Mina. Sebagian sudah siap. Informasinya, semua hotel itu akan digunakan untuk jamaah haji plus dan tenda-tenda Mina akan dipindahkan ke Arafah.(*)

Arafah-Muzdalifah-Mina Macet 17 Jam

Sabar, kenyataannya lebih bernilai dari pada segudang uang tatkala menjalankan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah. Banyak uang atau mewahnya fasilitas, tidak menjamin seseorang bisa bertahan saat melaksanakan puncak haji. Arafah-Muzdalifah dan Mina adalah ujian kesabaran terberat.

Catatan Mhd Nazir Fahmi
mnazirfahmi@riaupos.com

BAIK ke Tanah Haram dengan fasilitas plus ataupun reguler, di tiga tempat ini akan merasakan kehidupan berbeda ketika saat berada di tanah air. Bagi seorang pejabat, benar-benar menanggalkan jabatannya. Bagi seorang bos, juga harus membuang jauh-jauh rasa bosnya. Pokoknya, asal dia jamaah haji (kecuali Presiden dan sekelasnya) tidak ada yang diistimewakan di tiga tempat ini.
Seperti di tenda Mina, untuk jamaah haji plus, satu Maktab itu ada 2.500 jamaah haji. Dalam satu maktab, ada 20 buah toilet. Bayangkan saja, kalau ke 2.500 jamaah haji ingin sama-sama buang air, maka satu toilet akan diantre 150 orang. Begitu juga dengan tenda di Arafah, dalam urusan ke belakangan ini jumlah toiletnya sama dengan di Mina.
Kesabaran benar-benar diuji di sini. Itu dalam soal toilet. Belum lagi kalau berbicara masalah kemacetan. Kesabaran benar-benar lebih diuji lagi dan takabur harus dibuang jauh-jauh. Allah benar-benar mengikut prasangkaan hamba-Nya.
Suatu ketika, saat bus-bus jamaah haji lainnya sudah bertolak ke Arafah untuk wukuf dari Mina, empat bus yang mengangkut jamaah Muhibbah Mulia Wisata yang dijanjikan datang pagi, ternyata terjebak macet di terowongan. Tidak bisa keluar. Sebagian jamaah mulai gelisah dan ada yang mengusulkan jalan kaki saja ke Arafah atau arah terowongan di mana bus tertahan.
Sebagian jamaah sabar bertahan. Benar saja, menjelang pukul 10.00 pagi, bus sudah bisa lepas dari kemacetan dengan berjalan mundur sepanjang tiga kilometer. Ternyata Allah berkehendak lain. Satu kilometer menjelang sampai ke tenda, bus tidak diizinkan lagi mundur. Maka, dengan terpaksa seluruh jamaah harus jalan kaki hampir satu kilometer ke tempat bus.
Allah benar-benar mengabulkan keinginan sebagian jamaah. Keinginan jalan kaki, dikabulkan satu kilometer dengan membawa ransel dan berbagai perlengkapan untuk di Arafah dan Muzdalifah. Walaupun sudah agak siang, Alhamdulillah perjalanan ke Arafah sangat lancar. Tidak ada macet. 25 menit sudah sampai di Arafah. Padahal, jamaah lain yang berangkat pagi hampir sama-sama sampai dengan jamaah Muhibbah. Inilah buah kesabaran bagi sebagian jamaah yang mau menunggu.Lain halnya perjalanan dari Arafah-Muzdalifah-Makkah. Inilah ujian terberat bagi jamaah haji. Jumat (9 Zulhijah) usai wukuf, 5 juta lebih jamaah haji sama-sama bertolak untuk mabit (bermalam) di Muzdalifah. Bus-bus dan kendaraan pribadi mulai bergerak dari Arafah saat salat Maghrib.
Jalanan benar-benar macet total. Bergerak sedikit, berhenti berpuluh-puluh menit. Bayangkan, Arafah-Muzdalifah yang kalau hari biasa ditempuh dalam waktu 10 menit, saat haji paling cepat tujuh atau delapan jam.
Tiga bus rombongan jamaah haji plus Muhibbah, pukul 03.00 Alhamdulillah sudah bisa berada di Muzdalifah untuk mabit. Mabitnya di mobil dan tidak bisa turun. Yang paling beruntung, satu bus yang berisi jamaah yang agak sakit-sakit dan tua-tua, pukul 02.00 sudah meninggalkan Muzdalifah dan langsung ke Masjidil Haram untuk melaksanakan Tawaf Ifadah. Mereka tidak boleh parkir lama-lama di Muzdalifah. Pagi harinya mereka sudah berada kembali di tenda Mina.
Sementara tiga bus, baru lepas dari kemacetan di Muzdalifah pukul 11.00 pagi dan langsung ke Makkah untuk Tawaf Ifadah di Masjidil Haram. Selama 17 jam, jamaah harus berada di dalam bus. Untungnya, bus tidak ada kendala. AC bisa hidup terus dan bus tidak kehabisan minyak.
Bagi jamaah yang busnya terjebak macet sudah di Muzdalifah cukup beruntung karena bisa sekalian mabit. Banyak juga jamaah haji lainnya yang berangkat agak malam dari Arafah, busnya tidak bisa mencapai Muzdalifah sebelum Subuh. Makanya, mereka tidak bisa mabit.
Tak puas dengan 17 jam macet dari Arafah-Muzdalifah-Makkah, ribuan bus kembali terjebak macet di ruas jalan dari Makkah-Mina setelah salat Maghrib, 10 Zulhijah. Jutaan jamaah haji yang sudah tahalul awal dengan melaksanakan Tawaf Ifadah, mengejar melontar jumrah Aqabah di Mina.
Satu bus jamaah plus Muhibbah yang berangkat awal dari Makkah turut terjebak di tengah ribuan bus-bus jamaah haji lainnya di mulut terowongan Muhasyim. Bayangkan, setelah 17 jam merasakan macet sebelumnya, berselang beberapa jam dihantam macet lagi. Beberapa jamaah ada yang gelisah dan kurang sabar dengan kondisi tersebut.
Perjalanan Makkah-Mina yang hari biasa ditempuh dalam waktu 15 menit dengan bus, kenyataannya di musim haji dengan kemacetan yang ada baru sampai di tenda Mina pukul 03.00 pagi. Sembilan jam lagi dicoba kesabaran dengan macet. Buah kesabaran apa? Sampai di Mina saat melontar jumrah Aqabah sangat lancar dan sepi orang. Dengan mudah jamaah bisa melakukan pelontaran di jamarat.(*)

Rabu, 16 Januari 2008

JH Reguler Kelaparan, Plus Berlimpah Makanan

Kamis (28/12) atau 8 Zulkaedah, seluruh jamaah haji (JH) sudah bersiap-siap berpakaian ihram untuk haji. Jalanan menuju Mina dan Arafah mulai padat. Bus-bus besar dan mobil-mobil pribadi bersiliweran di jalan. JH plus Muhibbah Mulia Wisata, pagi itu bertolak menuju tenda Mina dengan pakaian ihram.

Catatan Mhd Nazir Fahmi
mnazirfahmi@riaupos.com

PAGI Kamis, perjalanan ke tenda Mina masih lancar-lancar saja. Walau sebagian besar kendaraan menuju ke Mina, tapi dengan banyaknya jalan alternatif belum terlihat adanya kemacetan. Menjelang Zuhur, JH plus Muhibbah sudah berada di bawah tenda Mina.
Sebelum masuk ke dalam lokasi tenda, semua JH harus memperlihatkan kartu pengenal maktab kepada petugas di pintu masuk. Kalau tak punya, jangan harap bisa masuk. Begitulah ketatnya penjagaan oleh petugas di sana. Satu maktab di tenda Mina, diisi oleh sekitar 2.500 jamaah haji. Kebetulan untuk JH plus Muhibbah berada di Maktab 103. Di Maktab ini semuanya adalah JH plus dari Indonesia.
Di gerbang masuk ke Maktab, di kiri kanannya berdiri lemari pendingin untuk aneka jus. Ada juga lemari untuk khusus air mineral. Bagi yang suka minuman dan jus dingin, tinggal ambil kapan pun. Bagi yang tidak suka air dingin, juga tersedia teko-teko listrik besar yang berisi air panas dan air yang tidak terlalu dingin. Di meja-meja juga tersedia gula, teh, kopi maupun susu bubuk.
Mau nasi putih dan goreng ayam, jamaah tinggal ambil. Makan tetap tiga kali dalam satu hari. Tinggal makan dan antre sedikit. Piring dari plastik yang bisa dibuang setelah makan tersedia. Buah-buahan segar seperti apel, pisang, pir dan jeruk menumpuk. Kalau perut sanggup menampung, tidak ada larangan untuk mengambil.
Hanya sebagian jamaah takut makan terlalu banyak. Alasannya, takut tersangkut urusan ke belakangan. Dalam satu maktab, untuk urusan ke belakangan alias toilet hanya tersedia 20 buah untuk 2.500 jamaah. Bayangkan, kalau sering-sering buang hajat, maka harus pula rela antre sambil menahan.
Satu malam di tenda Mina, Jumat (29/12) atau 9 Zulkaedah sekitar 3.000.000 jamaah haji yang resmi dan jutaan lainnya yang tidak tercatat harus berada di Arafat (baca; Arafah) sebelum tergelincirnya matahari atau masuk waktu Zuhur.
Jarak antara Mina dengan Arafah lebih kurang 7 km. Kalau hari biasa ditempuh hanya 10 menit dengan bus. Tapi kalau musim haji, semuanya tidak bisa diprediksi. Dari pagi, jalanan mulai macet total. Bus yang sarat dengan penumpang, bergerak sedikit demi sedikit.
Setengah jam menjelang salat Zuhur, seluruh JH plus Muhibbah sudah berada di tenda Arafah. Tenda yang berada di tepi jalan besar, pintu masuknya dihiasi bunga-bunga. Karpet hijau pun terhampar di jalan masuk hingga 10 meter panjangnya.
Walaupun sebagian besar Arafah terdiri dari padang pasir, bagi tenda JH plus Muhibbah jalanannya tidak berpasir. Jalanan ditutup oleh semen. Di dalam tenda ada kasur, selimut dan bantal. Tiga buah kipas angin dan dua air conditioner (AC) siap dioperasikan.
Ketika mendengar adanya informasi JH reguler Indonesia kelaparan, seluruh JH plus benar-benar terkejut bercampur sedih. Informasi kelaparan baru diterima sesaat akan meninggalkan Arafah ketika matahari mulai terbenam.
Andaikan informasinya didapat sebelum berangkat, pastilah banyak JH plus akan mencari tenda-tenda JH reguler Indonesia untuk membagikan makanan atau pun buah-buahan yang melimpah di tenda JH plus.
Memang, masalah makanan bagi JH plus tidak pernah ada masalah. Di tenda Arafah, segala keperluan untuk urusan perut tersedia di tiap penjuru kemah. Puluhan lemari pendingin berisi jus dan air mineral berdiri di samping-samping tenda. Bagi yang hobi kopi susu atau ngeteh, tinggal menyeduhnya.
Buah-buahan segar yang didominasi apel dan pisang, tidak putus-putusnya. Tinggal ambil, kalau sanggup untuk menghabiskannya. Nasi putih dengan lauk pauk selera Indonesia tinggal makan. Kalau masih lapar, bisa tambah lagi. Malah menjelang berangkat ke Muzdalifah untuk mabit (bermalam), sebagian besar JH mengantongi nasi dengan lauk pauk dan buah-buahan sebagai bekal.
Tidak dapat nasi atau makanan sejenisnya di Arafah merupakan ujian terberat. Di lokasi ini tidak ada orang berjualan makanan. Yang ada hanya penjaja-penjaja tasbeh, tisue, pernak-pernik haji dan sejenisnya.
Apalagi bagi JH reguler Indonesia masuk Arafah sejak Kamis. Tak dapat nasi lagi hingga Jumat ketika wukuf dimulai. Suhu udara di Arafah cukup terik. Dari pagi hingga sore, matahari terlihat jelas. Tidak ada awan. Untuk menjaga stamina, makan dan minum yang banyak sangat dianjurkan.(*)

Uji Coba di Aziziah Sebelum ke Tenda Mina

Hotel Sofitel, Makkah benar-benar strategis letaknya. Karena itu pulalah, sebagian besar jamaah haji plus dari berbagai negara, berburu untuk dapat menginap di hotel grup Accord ini. Dalam sebuah kamar yang besar, jamaah bisa mencuci dan setrika sendiri pakaian. Semuanya tersedia di sana.

Catatan Mhd Nazir Fahmi
mnazirfahmi@riaupos.com

DELAPAN hari menginap di Sofitel, benar-benar membuat jamaah haji plus nyaman untuk beribadah. Setiap waktu dari balik kaca jendela kamar, bisa menyaksikan jutaan manusia yang mulai membanjiri Masjidil Haram. Dari ketinggian Sofitel, Masjidil Haram dengan Kakbahnya terlihat makin agung dan mempesona.
Walaupun dekat, banyak juga jamaah haji plus yang pergi ke Masjidil Haram satu jam sebelum salat dimulai. Ini dilakukan agar kebagian syaf di dalam masjid. Dapat salat di luar, kalau malam akan diterpa angin dingin, siang tentu saja panas yang cukup terik.
Suhu di Makkah selalu berubah-ubah. Saat salat Subuh, kadang-kadang suhu 21 derajat celcius. Di Subuh berikutnya 25 atau 26 derajat. Menginjak siang, suhu terus naik hingga 30 derajat. Malamnya turun lagi ke angka 20-an derajat.
Sebenarnya menjelang iqamat, dari Sofitel jamaah masih bisa kebagian syaf di dalam, terutama di basemant Masjidil Haram. Tapi, kita harus berani melangkahi bahu orang lain yang dari awal sudah memadati halaman masjid. Soal langkah melangkahi ini adalah hal biasa saat musim haji di Masjidil Haram. Kalau tidak kita yang melangkahi orang, maka orang lain pasti akan melangkahi kita.
Untuk salat lima waktu di Masjidil Haram, bagi jamaah haji reguler menjadi persoalan sendiri bagi mereka. Kalau jamaah haji plus usai salat bisa langsung pulang ke hotel, bagi jamaah haji reguler banyak yang menunggu waktu di masjid dan tidak pulang ke penginapan.
Untuk salat Zuhur, Ashar, Maghrib dan Isya, sering ditemukan jamaah haji reguler duduk-duduk di pelataran masjid. Mereka terkadang bawa bekal atau belanja makanan di seputaran masjid. Kalau pulang, akan sangat berisiko dan susah untuk bisa salat di dalam masjid. Maka tak jarang ditemukan banyak jamaah haji reguler Indonesia, terutama yang sudah tua salah jalan dan tidak tahu jalan pulang setelah salat Isya.
Persoalan perut bagi jamaah haji plus, tetap tidak ada kendala. Jadwal makan sama dengan di Madinah. Tiga kali dalam satu hari. Menu makanan pun semakin bervariasi dan kian berkelas. Untuk sarapan pagi selain makan nasi putih, juga tersedia berbagai aneka bubur. Tentu saja roti bakar, buah dan aneka jus siap disantap. Tak ada kesah untuk kelaparan lah.
Ke luar dari pintu Sofitel, baik muka atau belakang, jamaah sudah berhadapan dengan toko-toko yang menjual berbagai pernak-pernik dan oleh-oleh khas Arab Saudi. Berbagai makanan pun ada, termasuk bakso. Tinggal sediakan riyal, berbagai oleh-oleh untuk dibawa ke tanah air bisa dibeli.
Selama di Makkah, sebelum masuk waktu wukuf, selain selalu beribadah di Masjidil Haram seperti salat lima waktu, tawaf sunat, salat tahajud dan ibadah lainnya, jamaah haji plus Muhibbah juga melakukan ziarah ke Jabal Tsur, Jabal Nur, Arafah, Muzdalifah dan Mina. Kalau musim haji, tempat-tempat ziarah hanya bisa dilihat dari atas bus. Bus tidak bisa berhenti karena banyaknya penziarah.
Menjelang ke Arafah-Mina, jamaah haji plus Muhibbah bersama jamaah plus Indonesia lainnya pindah tempat menginapnya ke Aziziah. Sebenarnya, menurut Pimpinan PT Muhibbah Mulia Wisata, Drs Ibnu Masud, dari Sofitel jamaah akan diinapkan ke Hotel Red See, Jeddah. Tapi karena adanya perubahan kebijakan dari pemerintahan Arab Saudi tidak boleh menginap di Jeddah, akhirnya jamaah menginap di perumahan di Aziziah yang berdampingan dengan penduduk Makkah.
Di Aziziah, dalam satu kamar diisi paling banyak tujuh tempat tidur. Bagi sebagian jamaah, hal ini membuat mereka kaget dan ada yang tidak sabar menerima kondisi tersebut. Tapi bagi sebagian jamaah menganggap Aziziah sebagai ajang uji coba untuk menghadapi tenda Mina. Mereka enjoi-enjoi saja dan malah banyak tidurnya pulas dengan ngorokannya yang keras dan bervariasi.
Urusan ke belakang alias buang hajat, mulai diuji kesabaran di Aziziah. Kalau di Madinah dan Makkah, satu toilet dipakai empat jamaah, maka di Aziziah diantre tujuh jamaah. Belum lagi kalau kebagian terakhir, siap-siap sabar karena air habis. Makanya jangan heran, selama di Tanah Haram banyak jamaah yang hanya mandi satu kali sehari. Malah ada juga yang tahan dua hari tidak mandi-mandi. Makanya, parfum Arab sangat laku pada musim haji.
Selama tiga hari di Aziziah, diisi dengan salat lima waktu di masjid-masjid di perkampungan tersebut. Usai salat Subuh, selalu ada pengajian dan tanya jawab soal ibadah. Soal perut, tetap tidak ada masalah berarti. Katering yang disediakan Muhibbah, seleranya sesuai dengan lidah orang Riau.(*)

Desa Wisata versus Sate Danguang Danguang

DINGINNYA Lembah Harau, terusir oleh setongkol jagung bakar. Sebungkus sate, terhidang. Aromanya mengelitik perut. “Ini sate danguang dangua...