WACANA pemilihan gubernur maupun bupati dikembalikan lagi ke anggota DPRD kian menggelontor. Mulai dari Menteri Dalam Negeri hingga Menteri Hukum dan HAM pun sudah beberapa kali angkat bicara. Dari berbagai komentar yang disampaikan, terlihat keinginan besar Mendagri untuk mengembalikan pesta demokrasi ini ke tangan wakil-wakil rakyat.
Ibaratkan berjalan, sesat di hilir silakan kembali ke hulu. Begitu pepatah lama yang menyiratkan kalau suatu keputusan yang telah dijalankan ternyata tidak memperlihatkan hasil menggembirakan, kembali kepada awal-awal alias ditinjau lagi keputusan tersebut.
Begitu halnya dengan Pilkada di negeri ini. Dulu, gara-gara tidak senangnya rakyat melihat perilaku anggota DPRD dalam memilih gubernur maupun bupati, diusulkanlah Pilkada langsung. Rakyat sangat marah atas sikap memperkaya diri anggota DPRD dengan memanfaatkan momen Pilkada. Sudah isu umum saat itu, satu orang anggota DPRD bisa membawa pulang uang di atas Rp1 miliar ketika terjadi ''serangan fajar''.
Ketika kemarahan pada puncaknya, disetujuilah Pilkada langsung. Rakyat yang menentukan. Rakyat yang memilih siapa gubernur atau bupati yang diinginkan. Untuk calon harus didukung oleh partai dan boleh juga dari perseorang yang syaratnya sangat berat.
Makin murahkan biaya yang harus dikeluarkan oleh seorang calon gubernur maupun bupati? Ternyata tidak. Malah makin mahal dan berisiko. Salah seorang gubernur terpilih dalam Pilkada 2010 ini mengaku menghabiskan Rp60 miliar saat Pilkada. Belum lagi risiko terpecah belahnya masyarakat karena urusan dukung mendukung.
Lalu, kalau kita kembali ke DPRD yang harus memutuskan siapa gubernur maupun bupati, akankan biayanya makin murah. Atau malah sebaliknya. Bisa-bisa, bandrol suara seorang anggota DPRD akan naik berlipat-lipat.
Jika anggota DPRD-nya 55 orang saja, berarti untuk menang seorang calon gubernur atau bupati paling tidak memegang 30 orang anggota. Kalau beberapa tahun dulu saja ada yang minta di atas Rp1 miliar, bisa jadi kalau dikembalikan ke DPRD, satu orangnya akan minta di atas Rp2 miliar. Kalau itu terjadi, berapa uang yang harus dikeluarkan seorang calon demi sebuah jabatan?
Kalau begini adanya, sudah pasti berimplikasi kepada keputusan-keputusan berikutnya setelah seorang calon itu duduk menjadi gubernur atau bupati. Mana ada orang mau merugi setelah modal yang dikeluarkannya sangat besar. Pasti ujung-ujungnya harus kembali modal. Caranya: KORUPSI. Naudzubillah mindzalik...
Total Tayangan Halaman
Jumat, 20 Agustus 2010
PLN-Pemerintah Harus Seayun Selangkah
BULAN Ramadan tanpa mati lampu adalah salah satu impian warga Riau, khususnya Pekanbaru. Tersebab sudah beberapa kali Ramadan listrik selalu mati bergilir, maka sangat wajar ini menjadi sebuah impian warga kota ini.
Gayung bersambut, Alhamdulillah PLN sudah mengupayakan agar selama bulan Ramadan tidak ada pemadaman bergilir sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. PLN pun berjanji untuk lebih maksimal agar tidak ada lagi pemadaman bergilir dan ini sudah menjadi isu nasional serta sudah pula disampaikan di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhir bulan lalu.
Persoalan listrik di negara ini sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik dan malah kalau ditangani secara profesional bisa mengekspornya ke luar negeri. Sumberdaya alam Indonesia yang luar biasa mulai dari minyak bumi, batubara hingga gas sungguh berlim pah. Belum lagi sungai-sungai dengan air derasnya yang tidak terhitung jumlahnya merupakan sumber energi murah yang belum termanfaatkan dengan maksimal.
Kini tinggal seayun selangkah antara PLN dengan pemerintah agar segera mengeluarkan negara ini dari krisis listrik. PLN dan pemerintah harus saling mengimbangi kecepatan. Kalau saat ini PLN di bawah Direktur Utama Dahlan Iskan larinya 100 km perjam, pemerintah juga harus bisa segitu. Paling tidak mendekati angka 100 itulah. Kalau pemerintahnya jauh tertinggal, alamat tidak akan berhasillah berbagai proyek-proyek PLN.
Kita mencontohkan pembangunan PLTU 2 x 100 MW di Tenayan Raya, Pekanbaru. PLN sudah menenderkannya kepada pihak ketiga untuk mengerjakannya dan kalau tidak ada aral melintang, akhir Agustus 2010 ini sudah tahu siapa pemenangnya. Kalau sudah tahu peme nangnya, tentu mereka akan langsung kerja.
Tapi satu kendala yang masih mencuat saat ini adalah terkait ganti rugi lahan pembangunan PLTU tersebut. Masih ada beberapa hektare lagi yang belum diganti rugi. Kalau ini tidak sesegera mungkin diselesaikan oleh Pemerintah Kota Pekanbaru, alamat tersendatlah proyek PLTU tersebut.
Makanya, pemerintah daerah, kota atau pusat harus bisa berse gera sebagaimana PLN juga bisa bergerak sangat cepat menyikapi krisis listrik di negeri ini. Istilah biar lambat asal selamat semestinya sudah harus ditinggalkan. Seharusnya sekarang pakailah istilah biar cepat asal selamat.***
Gayung bersambut, Alhamdulillah PLN sudah mengupayakan agar selama bulan Ramadan tidak ada pemadaman bergilir sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. PLN pun berjanji untuk lebih maksimal agar tidak ada lagi pemadaman bergilir dan ini sudah menjadi isu nasional serta sudah pula disampaikan di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhir bulan lalu.
Persoalan listrik di negara ini sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik dan malah kalau ditangani secara profesional bisa mengekspornya ke luar negeri. Sumberdaya alam Indonesia yang luar biasa mulai dari minyak bumi, batubara hingga gas sungguh berlim pah. Belum lagi sungai-sungai dengan air derasnya yang tidak terhitung jumlahnya merupakan sumber energi murah yang belum termanfaatkan dengan maksimal.
Kini tinggal seayun selangkah antara PLN dengan pemerintah agar segera mengeluarkan negara ini dari krisis listrik. PLN dan pemerintah harus saling mengimbangi kecepatan. Kalau saat ini PLN di bawah Direktur Utama Dahlan Iskan larinya 100 km perjam, pemerintah juga harus bisa segitu. Paling tidak mendekati angka 100 itulah. Kalau pemerintahnya jauh tertinggal, alamat tidak akan berhasillah berbagai proyek-proyek PLN.
Kita mencontohkan pembangunan PLTU 2 x 100 MW di Tenayan Raya, Pekanbaru. PLN sudah menenderkannya kepada pihak ketiga untuk mengerjakannya dan kalau tidak ada aral melintang, akhir Agustus 2010 ini sudah tahu siapa pemenangnya. Kalau sudah tahu peme nangnya, tentu mereka akan langsung kerja.
Tapi satu kendala yang masih mencuat saat ini adalah terkait ganti rugi lahan pembangunan PLTU tersebut. Masih ada beberapa hektare lagi yang belum diganti rugi. Kalau ini tidak sesegera mungkin diselesaikan oleh Pemerintah Kota Pekanbaru, alamat tersendatlah proyek PLTU tersebut.
Makanya, pemerintah daerah, kota atau pusat harus bisa berse gera sebagaimana PLN juga bisa bergerak sangat cepat menyikapi krisis listrik di negeri ini. Istilah biar lambat asal selamat semestinya sudah harus ditinggalkan. Seharusnya sekarang pakailah istilah biar cepat asal selamat.***
Gaya Hidup Mewah Suburkan Suap dan Pemerasan
''SAYA diperas Rp100 juta,'' kata Bulyan Royan mantan anggota DPR yang saat ini terpidana kasus suap pengadaan 20 unit kapal patroli di Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kemhub sebagaimana berita utama koran ini kemarin. Bulyan mengaku sudah setor Rp100 juta kepada Lapas Bangkinang yang dijanjikan akan dibangunkan ''rumah'' di lingkungan lapas.
Kita tahu Bulyan masuk penjara gara-gara kasus suap. Setelah terpenjara, giliran dia yang harus bayar suap demi kenyamanan di Lapas. Seperti rantai makanan, begitulah adanya fenomena suap, pemerasan maupun korupsi di Indonesia. Makan dan dimakan adalah hal yang biasa dalam rantai makanan tersebut.
Suap dan pemerasan di negeri ini benar-benar sudah menjadi kebiasaan yang sulit diberantas. Tidak payah sebenarnya menemukan praktik suap dan pemerasan dalam berbagai sektor kehidupan. Hanya saja untuk membuktikan praktik-praktik itu memerlukan kerja ekstra keras.
Tindakan suap dan pemerasan sebenarnya bisa diberantas, jika semua komponen bangsa serius mau memberantasnya, mengubah struktur dan sistem pemerintahan yang korup serta sikap masyarakat yang menyuburkan suap, pemerasan yang memicu tindakan korupsi.
Sebenarnya, kesederhanaan hidup para pemimpin dalam mengelola pemerintahan menjadi kunci yang sangat penting untuk diteladani. Suap, pemerasan dan korupsi akan sulit diberantas habis jika mental korup dan gaya hidup mewah yang akan melicinkan jalan pintas untuk melakukan korupsi.
Abu Bakar Siddik yang awalnya seorang saudagar kaya, di akhir hayatnya sebagai khalifah hanya memakan tumbukan tepung yang tidak halus, memakai pakaian kasar dan tidak punya apa-apa. Khalifah berikutnya, Umar bin Khathab, Umar bin Abdul Aziz ketika dilantik, dia melepaskan kekayaan dan dibagikan kepada rakyat yang diperoleh dari pejabat baik melalui penyalahgunaan kekuasaan atau dengan cara korupsi lainnya.
Rasulullah SAW bersabda, Allah melaknat penyuap, penerima suap, dan orang yang menyaksikan penyuapan (HR Ahmad). Adakalanya suap diberikan dengan maksud agar pejabat yang bersangkutan tidak menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya. Suap jenis ini pun amat dihindari oleh para sahabat Nabi SAW.
Rasulullah pernah mengutus Abdullah bin Rawahah ke daerah Khaibar (daerah Yahudi yang baru ditaklukkan kaum muslim) untuk menaksir hasil panen kebun kurma daerah itu. Sesuai dengan perjanjian, hasil panen akan dibagi dua dengan orang-orang Yahudi Khaibar. Tatkala Abdullah bin Rawahah tengah bertugas, datang orang-orang Yahudi kepadanya dengan membawa perhiasan yang mereka kumpulkan dari istri-istri mereka, seraya berkata, perhiasan itu untuk anda, tetapi ringankanlah kami dan berikan kepada kami bagian lebih dari separuh. Abdullah bin Rawahah menjawab, Hai kaum Yahudi, demi Allah, kalian memang manusia-manusia hamba Allah yang paling kubenci. Apa yang kalian lakukan ini justru mendorong diriku lebih merendahkan kalian. Suap yang kalian tawarkan itu adalah barang haram dan kaum muslim tidak memakannya! Mendengar jawaban itu mereka serentak menyahut, ''Karena itulah langit dan bumi tetap tegak.''*
Kita tahu Bulyan masuk penjara gara-gara kasus suap. Setelah terpenjara, giliran dia yang harus bayar suap demi kenyamanan di Lapas. Seperti rantai makanan, begitulah adanya fenomena suap, pemerasan maupun korupsi di Indonesia. Makan dan dimakan adalah hal yang biasa dalam rantai makanan tersebut.
Suap dan pemerasan di negeri ini benar-benar sudah menjadi kebiasaan yang sulit diberantas. Tidak payah sebenarnya menemukan praktik suap dan pemerasan dalam berbagai sektor kehidupan. Hanya saja untuk membuktikan praktik-praktik itu memerlukan kerja ekstra keras.
Tindakan suap dan pemerasan sebenarnya bisa diberantas, jika semua komponen bangsa serius mau memberantasnya, mengubah struktur dan sistem pemerintahan yang korup serta sikap masyarakat yang menyuburkan suap, pemerasan yang memicu tindakan korupsi.
Sebenarnya, kesederhanaan hidup para pemimpin dalam mengelola pemerintahan menjadi kunci yang sangat penting untuk diteladani. Suap, pemerasan dan korupsi akan sulit diberantas habis jika mental korup dan gaya hidup mewah yang akan melicinkan jalan pintas untuk melakukan korupsi.
Abu Bakar Siddik yang awalnya seorang saudagar kaya, di akhir hayatnya sebagai khalifah hanya memakan tumbukan tepung yang tidak halus, memakai pakaian kasar dan tidak punya apa-apa. Khalifah berikutnya, Umar bin Khathab, Umar bin Abdul Aziz ketika dilantik, dia melepaskan kekayaan dan dibagikan kepada rakyat yang diperoleh dari pejabat baik melalui penyalahgunaan kekuasaan atau dengan cara korupsi lainnya.
Rasulullah SAW bersabda, Allah melaknat penyuap, penerima suap, dan orang yang menyaksikan penyuapan (HR Ahmad). Adakalanya suap diberikan dengan maksud agar pejabat yang bersangkutan tidak menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya. Suap jenis ini pun amat dihindari oleh para sahabat Nabi SAW.
Rasulullah pernah mengutus Abdullah bin Rawahah ke daerah Khaibar (daerah Yahudi yang baru ditaklukkan kaum muslim) untuk menaksir hasil panen kebun kurma daerah itu. Sesuai dengan perjanjian, hasil panen akan dibagi dua dengan orang-orang Yahudi Khaibar. Tatkala Abdullah bin Rawahah tengah bertugas, datang orang-orang Yahudi kepadanya dengan membawa perhiasan yang mereka kumpulkan dari istri-istri mereka, seraya berkata, perhiasan itu untuk anda, tetapi ringankanlah kami dan berikan kepada kami bagian lebih dari separuh. Abdullah bin Rawahah menjawab, Hai kaum Yahudi, demi Allah, kalian memang manusia-manusia hamba Allah yang paling kubenci. Apa yang kalian lakukan ini justru mendorong diriku lebih merendahkan kalian. Suap yang kalian tawarkan itu adalah barang haram dan kaum muslim tidak memakannya! Mendengar jawaban itu mereka serentak menyahut, ''Karena itulah langit dan bumi tetap tegak.''*
Goodbye Genset...
TRIWULAN ke dua tahun 2010 ini, ternyata angka penjualan genset untuk rumah tangga di Riau menurun drastis. Dibandingkan pada triwulan ke dua pada tahun sebelumnya, penurunannya bisa jadi 90 persen. Lihat saja pemberitaan koran ini pada bulan Juli atau Agustus 2009, toko-toko penyedia genset di daerah ini panen besar. Orang antrean untuk membeli genset dari ukuran kecil hingga besar. Malah saat itu, banyak warga sampai indent genset yang diinginkannya.
Itu mah dulu bro...Sekarang, genset-genset itu sudah pada berdebu dan dibiarkan teronggok di ruangan belakang rumah oleh pemiliknya. Bukan rusak atau tak ada uang pembeli minyak untuk menghidupkannya. Tapi, memang tidak diperlukan lagi. Semua ini gara-gara PLN.
Lho...kok PLN. Iya. Dulu orang ramai-ramai beli genset karena listrik PLN sering mati. Orang istilahkan lebih daripada makan obat. Kalau makan obat kan tiga kali sehari. Tapi kalau PLN, matinya sampai empat kali atau lebih dalam sehari. Tak peduli dalam kondisi apapun. PLN hanya tahu mati.
Tidak hanya tiba-tiba mati saat muazin akan mengumandangkan azan maghrib karena tersebab tak sanggup menanggung beban puncak, dalam bulan Ramadan pun mati. Banyak sudah warga yang merasakan bergelap-gelap saat makan sahur. Ya, genset menjadi primadona saat itu.
Kini pun gara-gara PLN genset tak laku. Tak ada lagi byar-pet. Tak ada lagi istilah beban puncak. Tak terdengar lagi alasan-alasan musim kemarau, perbaikan turbin atau segudang alasan lainnya. Yang ada sekarang, langsung nyala dan nyala terus.
Tahniah patutlah disampaikan buat PLN. Thanks, PLN. Terimakasih Pak Dahlan Iskan, Direktur Utama yang telah membuat perubahan mendasar di tubuh PLN. Saat ini, kami sudah merasakan kenyamanan sebagai pelanggan. Dan pada dasarnya, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa, bukti keberhasilannya adalah ternyamankannya pelanggan. Nihil keluhan.
Harapan terbesar, semoga tanpa pemadaman ini terus berlanjut. Apalagi sebentar lagi Ramadan menjelang. Kenyamanan beribadah dalam bulan Ramadan tanpa mati listrik, sudah lama didambakan masyarakat di daerah ini. Terang benderang tanpa bunyi genset saat makan sahur pun telah lama diimpikan. Insya Allah, semoga PLN selalu ditolong-Nya.
Begitu pula orang-orang pintar di PLN benar-benar bisa mengemban tugas dengan baik dan selalu diberi keberkahan dalam menjalankan amanah yang dibeban kepadanya. Bebas Pemadaman Bergilir se Indonesia semoga bisa terwujud.(*)
Itu mah dulu bro...Sekarang, genset-genset itu sudah pada berdebu dan dibiarkan teronggok di ruangan belakang rumah oleh pemiliknya. Bukan rusak atau tak ada uang pembeli minyak untuk menghidupkannya. Tapi, memang tidak diperlukan lagi. Semua ini gara-gara PLN.
Lho...kok PLN. Iya. Dulu orang ramai-ramai beli genset karena listrik PLN sering mati. Orang istilahkan lebih daripada makan obat. Kalau makan obat kan tiga kali sehari. Tapi kalau PLN, matinya sampai empat kali atau lebih dalam sehari. Tak peduli dalam kondisi apapun. PLN hanya tahu mati.
Tidak hanya tiba-tiba mati saat muazin akan mengumandangkan azan maghrib karena tersebab tak sanggup menanggung beban puncak, dalam bulan Ramadan pun mati. Banyak sudah warga yang merasakan bergelap-gelap saat makan sahur. Ya, genset menjadi primadona saat itu.
Kini pun gara-gara PLN genset tak laku. Tak ada lagi byar-pet. Tak ada lagi istilah beban puncak. Tak terdengar lagi alasan-alasan musim kemarau, perbaikan turbin atau segudang alasan lainnya. Yang ada sekarang, langsung nyala dan nyala terus.
Tahniah patutlah disampaikan buat PLN. Thanks, PLN. Terimakasih Pak Dahlan Iskan, Direktur Utama yang telah membuat perubahan mendasar di tubuh PLN. Saat ini, kami sudah merasakan kenyamanan sebagai pelanggan. Dan pada dasarnya, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa, bukti keberhasilannya adalah ternyamankannya pelanggan. Nihil keluhan.
Harapan terbesar, semoga tanpa pemadaman ini terus berlanjut. Apalagi sebentar lagi Ramadan menjelang. Kenyamanan beribadah dalam bulan Ramadan tanpa mati listrik, sudah lama didambakan masyarakat di daerah ini. Terang benderang tanpa bunyi genset saat makan sahur pun telah lama diimpikan. Insya Allah, semoga PLN selalu ditolong-Nya.
Begitu pula orang-orang pintar di PLN benar-benar bisa mengemban tugas dengan baik dan selalu diberi keberkahan dalam menjalankan amanah yang dibeban kepadanya. Bebas Pemadaman Bergilir se Indonesia semoga bisa terwujud.(*)
Senin, 12 Juli 2010
Kembali Memaknai Peristiwa Israk Mikraj
MAHA Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ini adalah arti dari ayat pertama surat Al Israa dalam Alquran.
Sekali dalam satu tahun, terutama akhir-akhir bulan Rajab, ayat ini sangat sering diperdengarkan serta dikupas maknanya, terutama oleh para ustad-ustad yang memberi ceramah tentang peristiwa Israk Mikraj. Banyak hal diceritakan bagaimana perjalanan Rasulullah SAW menembus ruang dan waktu.
Besok, kembali kita mendapati hari cukup bersejarah dan penuh makna itu. 27 Rajab 1431 Hijriyah, bertepatan dengan 10 Juli 2010. Setiap tahunnya, bagi negara kita, 27 Rajab ditetapkan sebagai hari libur nasional. Dengan dijadikan sebagai hari libur nasional, tentu saja harapan terbesarnya adalah mengingatkan kembali kepada semua muslim begitu pentingnya Israk Mikraj.
Hasil terbesar dari peristiwa Israk Mikraj adalah turunnya perintah salat dari Allah SWT untuk umat Muslim. Negosiasi dengan Allah SWT, akhirnya Rasulullah SAW harus menerima perintah salat dalam satu hari lima kali. Sebelumnya, Allah SWT memerintahkan jauh di atas angka lima kali.
Kalau yang namanya perintah, tentu saja berkonotasi harus dilaksanakan. Kalau tidak, akan ada konsekwensi atas ketidakpatu han atas perintah tersebut. Begitu halnya dengan salat lima waktu, sebagai umat Islam, kita wajib menjalankannya. Apapun kondisinya, salat harus dilaksanakan. Tak bisa berdiri, silakan duduk, tak bisa duduk boleh berbaring. Tak bisa menggerakkan tangan, bisa dengan hati saat berbaring. Kalau tidak bisa juga, mungkin saatnya kita disalatkan orang.
Karenanya, hisab pertama di kampung akhirat kelak adalah salat. Kalau baik nilai salatnya, selamatlah kita. Kalau tidak, bakal meranalah di neraka Jahannam. Makanya, kahadiran Israk Mikraj mengingatkan kita kembali dengan salat bagi yang belum malaksanakannya. Ingat, pembeda umat Muslim dengan umat agama lain adalah salat lima waktu. Salat adalah tiang agama. Kalaulah kita mengaku Muslim tapi tak menjalankan salat, apa yang akan kita bawa saat menghadap Allah SWT kelak.***
Sekali dalam satu tahun, terutama akhir-akhir bulan Rajab, ayat ini sangat sering diperdengarkan serta dikupas maknanya, terutama oleh para ustad-ustad yang memberi ceramah tentang peristiwa Israk Mikraj. Banyak hal diceritakan bagaimana perjalanan Rasulullah SAW menembus ruang dan waktu.
Besok, kembali kita mendapati hari cukup bersejarah dan penuh makna itu. 27 Rajab 1431 Hijriyah, bertepatan dengan 10 Juli 2010. Setiap tahunnya, bagi negara kita, 27 Rajab ditetapkan sebagai hari libur nasional. Dengan dijadikan sebagai hari libur nasional, tentu saja harapan terbesarnya adalah mengingatkan kembali kepada semua muslim begitu pentingnya Israk Mikraj.
Hasil terbesar dari peristiwa Israk Mikraj adalah turunnya perintah salat dari Allah SWT untuk umat Muslim. Negosiasi dengan Allah SWT, akhirnya Rasulullah SAW harus menerima perintah salat dalam satu hari lima kali. Sebelumnya, Allah SWT memerintahkan jauh di atas angka lima kali.
Kalau yang namanya perintah, tentu saja berkonotasi harus dilaksanakan. Kalau tidak, akan ada konsekwensi atas ketidakpatu han atas perintah tersebut. Begitu halnya dengan salat lima waktu, sebagai umat Islam, kita wajib menjalankannya. Apapun kondisinya, salat harus dilaksanakan. Tak bisa berdiri, silakan duduk, tak bisa duduk boleh berbaring. Tak bisa menggerakkan tangan, bisa dengan hati saat berbaring. Kalau tidak bisa juga, mungkin saatnya kita disalatkan orang.
Karenanya, hisab pertama di kampung akhirat kelak adalah salat. Kalau baik nilai salatnya, selamatlah kita. Kalau tidak, bakal meranalah di neraka Jahannam. Makanya, kahadiran Israk Mikraj mengingatkan kita kembali dengan salat bagi yang belum malaksanakannya. Ingat, pembeda umat Muslim dengan umat agama lain adalah salat lima waktu. Salat adalah tiang agama. Kalaulah kita mengaku Muslim tapi tak menjalankan salat, apa yang akan kita bawa saat menghadap Allah SWT kelak.***
Jumat, 02 Juli 2010
Pekanbaru Kotaku, Kotamu, Kota Kita
TAHNIAH buat Kota Pekanbaru yang baru saja berulang tahun yang ke-226 tanggal 23 Juni lalu. Kalaulah ada yang menyebut Pekanbaru tak berkembang, sangat patutlah orang tersebut diperiksakan kejiwaannya. Dari tahun ke tahun, Kota Pekanbaru berubah sangat luar biasa. Banyak orang dari luar kota yang setahun saja tidak ke Pekanbaru akan tercengang-cengang dengan perkembangan kota yang dijuluki Bertuah tersebut.
Ada yang sebut Pekanbaru itu seperti kota yang disulap. Hari ini masih lahan kosong, besok sudah berdiri rumah toko alias Ruko. Tanah yang dulunya rawa dengan pameo tempat jin buang anak, tiba-tiba sudah berdiri pusat perbelanjaan dengan ribuan toko. Silap kalau ada orang yang bilang ini tidak luar biasa!
Dari segi bisnis, majunya sebuah kota itu bisa diukur dengan kehadiran nama-nama terkenal dalam dunia retail dan perbankan. Bagaimana dengan Pekanbaru? Ya, kita bisa saksikan beberapa nama dalam bidang retail sudah hadir di kota ini. Sebut saja Hypermart, Giant, Lottemart (dulu Makro) dan Ramayana. Carrefour yang disebut-sebut sudah mau masuk ke Pekanbaru ternyata terkendala dengan tempat.
Semua ini memperlihatkan besarnya potensi pasar di Pekanbaru. Orang dari luar selalu saja melihat Pekanbaru itu ibaratkan gula. Semuanya pada berebut untuk masuk demi butiran-butiran gula tersebut.
Sekarang tinggal bagaimana Pekanbaru itu bisa menjadikan dirinya sebagai gula yang berkualitas tinggi. Putih bersih dan manis tentunya. Jangan menjadi gula yang kuning berkualitas jelek dan harganya juga jatuh.
Maksudnya, Pekanbaru harus pandai-pandai jaga diri. Jangan terbuai dengan rayuan semut-semut yang hanya ingin menikmati manisnya gula. Setelah dapat gula, lalu semua-semut itu pergi meninggalkan kota ini. Seharusnya Pekanbaru harus bisa membuat para semut-semut membuat sarang barunya di kota ini. Apa yang mereka buat di kota ini juga untuk kota ini dan akan kembali pula ke kota ini. Bak istilah, Pekanbaru Kotaku, Kotamu, Kota Kita.***
Ada yang sebut Pekanbaru itu seperti kota yang disulap. Hari ini masih lahan kosong, besok sudah berdiri rumah toko alias Ruko. Tanah yang dulunya rawa dengan pameo tempat jin buang anak, tiba-tiba sudah berdiri pusat perbelanjaan dengan ribuan toko. Silap kalau ada orang yang bilang ini tidak luar biasa!
Dari segi bisnis, majunya sebuah kota itu bisa diukur dengan kehadiran nama-nama terkenal dalam dunia retail dan perbankan. Bagaimana dengan Pekanbaru? Ya, kita bisa saksikan beberapa nama dalam bidang retail sudah hadir di kota ini. Sebut saja Hypermart, Giant, Lottemart (dulu Makro) dan Ramayana. Carrefour yang disebut-sebut sudah mau masuk ke Pekanbaru ternyata terkendala dengan tempat.
Semua ini memperlihatkan besarnya potensi pasar di Pekanbaru. Orang dari luar selalu saja melihat Pekanbaru itu ibaratkan gula. Semuanya pada berebut untuk masuk demi butiran-butiran gula tersebut.
Sekarang tinggal bagaimana Pekanbaru itu bisa menjadikan dirinya sebagai gula yang berkualitas tinggi. Putih bersih dan manis tentunya. Jangan menjadi gula yang kuning berkualitas jelek dan harganya juga jatuh.
Maksudnya, Pekanbaru harus pandai-pandai jaga diri. Jangan terbuai dengan rayuan semut-semut yang hanya ingin menikmati manisnya gula. Setelah dapat gula, lalu semua-semut itu pergi meninggalkan kota ini. Seharusnya Pekanbaru harus bisa membuat para semut-semut membuat sarang barunya di kota ini. Apa yang mereka buat di kota ini juga untuk kota ini dan akan kembali pula ke kota ini. Bak istilah, Pekanbaru Kotaku, Kotamu, Kota Kita.***
Ingat, Memimpin Itu adalah Amanah
KAMIS (3/6), tiga kabupaten dan satu kota di Provinsi Riau melaksanakan pemilihan umum kepala daerah. Tiga daerah berada di pesisir yakni Bengkalis, Dumai dan Kepulauan Meranti. Satu lagi berada di ranah Indragiri yakni Indragiri Hulu. Tentu saja, hari ini kita semua sudah bisa menyaksikan siapa calon-calon pemimpin yang mendapatkan dukungan terbanyak dari masyarakat di empat daerah tersebut.
Calon-calon pemimpin yang sudah berjibaku dengan banyak hal, tentu saja kemarin maupun hari ini akan bisa melihat hasil dari perjuangan sebelumnya. Menang atau kalah sudah terbayang, walaupun hasil akhirnya menunggu ketetapan dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD).
Kepada calon yang kalah, harapan kita agar bisa menerima kekalahannya dengan sportivitas. Sudah menjadi kebiasaan dalam setiap pertarungan, ada menang dan ada kalah. Tak perlu disesali. Petik nilai positifnya. Orang yang tak menyesali kegagalannya adalah orang yang sudah berani mencoba dan mengambil hikmah dari kegagalan tersebut.
Bagi yang menang, sepatutnya Anda mohon ampun kepada Allah SWT. Ingat, kemenangan anda sebagai pemimpin adalah amanah yang diminta. Anda meminta amanah itu dibebankan ke pundak. Ini harus dijalankan dengan baik. Kalau anda tidak jalankan amanah tersebut, berat pertanggungjawabannya di pengadilan Allah SWT.
Untuk calon incumbent, kalau menang, berarti amanah berikutnya harus Anda jalankan. Seharusnya, harus lebih baik lagi dari kepemimpinan sebelumnya. Jangan pula terjadi sebaliknya, memimpin kedua lebih buruk dari yang pertama. Bisa-bisa akan jadi laknat.
Kalau tak terpilih, kembalikan kepada takdir Allah. Semuanya sudah diatur oleh Allah. Sepatutnya Anda baca terjemahan Surat Ali Imran ayat 26 berikut ini: ''Katakanlah; Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.(*)
Calon-calon pemimpin yang sudah berjibaku dengan banyak hal, tentu saja kemarin maupun hari ini akan bisa melihat hasil dari perjuangan sebelumnya. Menang atau kalah sudah terbayang, walaupun hasil akhirnya menunggu ketetapan dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD).
Kepada calon yang kalah, harapan kita agar bisa menerima kekalahannya dengan sportivitas. Sudah menjadi kebiasaan dalam setiap pertarungan, ada menang dan ada kalah. Tak perlu disesali. Petik nilai positifnya. Orang yang tak menyesali kegagalannya adalah orang yang sudah berani mencoba dan mengambil hikmah dari kegagalan tersebut.
Bagi yang menang, sepatutnya Anda mohon ampun kepada Allah SWT. Ingat, kemenangan anda sebagai pemimpin adalah amanah yang diminta. Anda meminta amanah itu dibebankan ke pundak. Ini harus dijalankan dengan baik. Kalau anda tidak jalankan amanah tersebut, berat pertanggungjawabannya di pengadilan Allah SWT.
Untuk calon incumbent, kalau menang, berarti amanah berikutnya harus Anda jalankan. Seharusnya, harus lebih baik lagi dari kepemimpinan sebelumnya. Jangan pula terjadi sebaliknya, memimpin kedua lebih buruk dari yang pertama. Bisa-bisa akan jadi laknat.
Kalau tak terpilih, kembalikan kepada takdir Allah. Semuanya sudah diatur oleh Allah. Sepatutnya Anda baca terjemahan Surat Ali Imran ayat 26 berikut ini: ''Katakanlah; Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.(*)
Langganan:
Postingan (Atom)
Desa Wisata versus Sate Danguang Danguang
DINGINNYA Lembah Harau, terusir oleh setongkol jagung bakar. Sebungkus sate, terhidang. Aromanya mengelitik perut. “Ini sate danguang dangua...
-
Di Provinsi Zhejiang Republik Rakyat Cina, ada seorang anak laki-laki bernama Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada ayahnya, hidupnya yan...
-
INGIN melihat data jumlah wisatawan yang datang ke suatu daerah, dari penumpang pesawat bisa diketahui. Atau bisa juga diketahui dari imig...
-
DANAU PLTA Koto Panjang Kabupaten Kampar punya potensi besar dikelola jadi destinasi pariwisata di Riau. Bukit-bukit yang hijau. Hamparan...