Total Tayangan Halaman

Senin, 12 Juli 2010

Kembali Memaknai Peristiwa Israk Mikraj

MAHA Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ini adalah arti dari ayat pertama surat Al Israa dalam Alquran.
Sekali dalam satu tahun, terutama akhir-akhir bulan Rajab, ayat ini sangat sering diperdengarkan serta dikupas maknanya, terutama oleh para ustad-ustad yang memberi ceramah tentang peristiwa Israk Mikraj. Banyak hal diceritakan bagaimana perjalanan Rasulullah SAW menembus ruang dan waktu.
Besok, kembali kita mendapati hari cukup bersejarah dan penuh makna itu. 27 Rajab 1431 Hijriyah, bertepatan dengan 10 Juli 2010. Setiap tahunnya, bagi negara kita, 27 Rajab ditetapkan sebagai hari libur nasional. Dengan dijadikan sebagai hari libur nasional, tentu saja harapan terbesarnya adalah mengingatkan kembali kepada semua muslim begitu pentingnya Israk Mikraj.
Hasil terbesar dari peristiwa Israk Mikraj adalah turunnya perintah salat dari Allah SWT untuk umat Muslim. Negosiasi dengan Allah SWT, akhirnya Rasulullah SAW harus menerima perintah salat dalam satu hari lima kali. Sebelumnya, Allah SWT memerintahkan jauh di atas angka lima kali.
Kalau yang namanya perintah, tentu saja berkonotasi harus dilaksanakan. Kalau tidak, akan ada konsekwensi atas ketidakpatu han atas perintah tersebut. Begitu halnya dengan salat lima waktu, sebagai umat Islam, kita wajib menjalankannya. Apapun kondisinya, salat harus dilaksanakan. Tak bisa berdiri, silakan duduk, tak bisa duduk boleh berbaring. Tak bisa menggerakkan tangan, bisa dengan hati saat berbaring. Kalau tidak bisa juga, mungkin saatnya kita disalatkan orang.
Karenanya, hisab pertama di kampung akhirat kelak adalah salat. Kalau baik nilai salatnya, selamatlah kita. Kalau tidak, bakal meranalah di neraka Jahannam. Makanya, kahadiran Israk Mikraj mengingatkan kita kembali dengan salat bagi yang belum malaksanakannya. Ingat, pembeda umat Muslim dengan umat agama lain adalah salat lima waktu. Salat adalah tiang agama. Kalaulah kita mengaku Muslim tapi tak menjalankan salat, apa yang akan kita bawa saat menghadap Allah SWT kelak.***

Jumat, 02 Juli 2010

Pekanbaru Kotaku, Kotamu, Kota Kita

TAHNIAH buat Kota Pekanbaru yang baru saja berulang tahun yang ke-226 tanggal 23 Juni lalu. Kalaulah ada yang menyebut Pekanbaru tak berkembang, sangat patutlah orang tersebut diperiksakan kejiwaannya. Dari tahun ke tahun, Kota Pekanbaru berubah sangat luar biasa. Banyak orang dari luar kota yang setahun saja tidak ke Pekanbaru akan tercengang-cengang dengan perkembangan kota yang dijuluki Bertuah tersebut.
  Ada yang sebut Pekanbaru itu seperti kota yang disulap. Hari ini masih lahan kosong, besok sudah berdiri rumah toko alias Ruko. Tanah yang dulunya rawa dengan pameo tempat jin buang anak, tiba-tiba sudah berdiri pusat perbelanjaan dengan ribuan toko. Silap kalau ada orang yang bilang ini tidak luar biasa!
  Dari segi bisnis, majunya sebuah kota itu bisa diukur dengan kehadiran nama-nama terkenal dalam dunia retail dan perbankan. Bagaimana dengan Pekanbaru? Ya, kita bisa saksikan beberapa nama dalam bidang retail sudah hadir di kota ini. Sebut saja Hypermart, Giant, Lottemart (dulu Makro) dan Ramayana. Carrefour yang disebut-sebut sudah mau masuk ke Pekanbaru ternyata terkendala dengan tempat.
  Semua ini memperlihatkan besarnya potensi pasar di Pekanbaru. Orang dari luar selalu saja melihat Pekanbaru itu ibaratkan gula. Semuanya pada berebut untuk masuk demi butiran-butiran gula tersebut.
  Sekarang tinggal bagaimana Pekanbaru itu bisa menjadikan dirinya sebagai gula yang berkualitas tinggi. Putih bersih dan manis tentunya. Jangan menjadi gula yang kuning berkualitas jelek dan harganya juga jatuh.
  Maksudnya, Pekanbaru harus pandai-pandai jaga diri. Jangan terbuai dengan rayuan semut-semut yang hanya ingin menikmati manisnya gula. Setelah dapat gula, lalu semua-semut itu pergi meninggalkan kota ini. Seharusnya Pekanbaru harus bisa membuat para semut-semut membuat sarang barunya di kota ini. Apa yang mereka buat di kota ini juga untuk kota ini dan akan kembali pula ke kota ini. Bak istilah, Pekanbaru Kotaku, Kotamu, Kota Kita.***

Ingat, Memimpin Itu adalah Amanah

KAMIS (3/6), tiga kabupaten dan satu kota di Provinsi Riau melaksanakan pemilihan umum kepala daerah. Tiga daerah berada di pesisir yakni Bengkalis, Dumai dan Kepulauan Meranti. Satu lagi berada di ranah Indragiri yakni Indragiri Hulu. Tentu saja, hari ini kita semua sudah bisa menyaksikan siapa calon-calon pemimpin yang mendapatkan dukungan terbanyak dari masyarakat di empat daerah tersebut.
  Calon-calon pemimpin yang sudah berjibaku dengan banyak hal, tentu saja kemarin maupun hari ini akan bisa melihat hasil dari perjuangan sebelumnya. Menang atau kalah sudah terbayang, walaupun hasil akhirnya menunggu ketetapan dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD).
  Kepada calon yang kalah, harapan kita agar bisa menerima kekalahannya dengan sportivitas. Sudah menjadi kebiasaan dalam setiap pertarungan, ada menang dan ada kalah. Tak perlu disesali. Petik nilai positifnya. Orang yang tak menyesali kegagalannya adalah orang yang sudah berani mencoba dan mengambil hikmah dari kegagalan tersebut.
  Bagi yang menang, sepatutnya Anda mohon ampun kepada Allah SWT. Ingat, kemenangan anda sebagai pemimpin adalah amanah yang diminta. Anda meminta amanah itu dibebankan ke pundak. Ini harus dijalankan dengan baik. Kalau anda tidak jalankan amanah tersebut, berat pertanggungjawabannya di pengadilan Allah SWT.
  Untuk calon incumbent, kalau menang, berarti amanah berikutnya harus Anda jalankan. Seharusnya, harus lebih baik lagi dari kepemimpinan sebelumnya. Jangan pula terjadi sebaliknya, memimpin kedua lebih buruk dari yang pertama. Bisa-bisa akan jadi laknat.
  Kalau tak terpilih, kembalikan kepada takdir Allah. Semuanya sudah diatur oleh Allah. Sepatutnya Anda baca terjemahan Surat Ali Imran ayat 26 berikut ini: ''Katakanlah; Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.(*) 

Mengapa Riau Selalu Telat?

WALAU baru berstatus akan, dengan adanya persetujuan Menteri Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI yang akan mengucurkan anggaran Rp23 miliar untuk pembangunan jalan layang atau flyover sepanjang 750 meter di Jalan Sudirman-Tambusai serta Jalan Sudirman-Imam Munandar Pekanbaru terasa agak menggembirakan juga.
  Kalaulah proyek itu terealisasikan, berarti itulah jalan layang pertama yang dimiliki Riau. Sumpeknya Jalan Sudirman di dua titik yang disebutkan, otomatis akan lega dengan kehadiran jalan layang tersebut. Dengan sendirinya pula, tidak akan ada penumpukan kendaraan di dua persimpangan itu.
  Dibandingkan jalan tol Pekanbaru-Dumai, proyek flyover di dua titik tersibuk itu baru menghabiskan masa tiga tahun penantian. Banyak sudah pakar-pakar perkotaan dan transportasi di daerah ini yang berucap pentingnya flyover di dua titik itu beberapa tahun lalu. Warga kota pun sudah lama pula berharap agar ada kenyamanan dalam berkendaraan di jalan-jalan utama dalam kota ini.
  Kita tumpangkanlah harapan kepada penguasa-penguasa negeri ini agar segera mewujudkan proyek itu. Rasanya segan juga melihat Padangpanjang, sebuah kota kecil di Sumatera Barat yang sudah punya flyover walaupun belum selesai. Apalagi kalau pulang ke Padang yang sudah pula menyelesaikan jalan layang sepanjang 1.600 meter dari Duku ke Bandara Internasional Minangkabau (BIM) dengan biaya Rp70,95 miliar dari APBN, alamak makin terasalah kota kita ini jauh tertinggal.
  Jalan layang di Padang ini dibuat berdasarkan kemungkinan makin padatnya arus transportasi untuk menghindari kemacetan beberapa masa mendatang. Kalau kita di Pekanbaru, beberapa titik pertemuan jalan selalu didera kemacetan. Jalan tiadalah bertambah lebar, sementara volume kendaraan terus kian membesar.
  Jadi sejak dulu, sangat patutlah ada flyover di Kota Pekanbaru yang pertumbuhan ekonominya sangat tinggi di Indonesia. Tapi entah kenapa, proyek-proyek itu bermunculan di kota lain yang volume kendaraannya cukup kecil dan ada kecenderungan menurun. Kita selalu telat mendapatkan sesuatu yang betul-betul berguna untuk kepentingan bersama. Namun bak kata pepatah, biarlah telat, daripada tidak dapat sama sekali.***

Jumat, 21 Mei 2010

Dari RS Gratis hingga Naik Burung Onta


Selain kaya dengan beragam adat istiadat, Negeri Sembilan, Malaysia juga menyimpan banyak potensi wisata lainnya yang patut dikunjungi. Tidak hanya menjual wisata alam, rumah sakit dan perguruan tinggi selalu dimasukkan ke agenda pelancongan.

Laporan Mhd Nazir Fahmi,
Negeri Sembilan

DALAM kunjungan rombongan DPD Association of the Indonesia Tours and Travel (ASITA) Riau ke Negeri Sembilan 14-17 Mei lalu, ada dua rumah sakit swasta yang dikunjungi. Ada Mawar Renal Medical Centre dan KPJ Seremban Specialist Hospital. Dua rumah sakit ini memiliki kelebihan masing-masing. Tapi, secara teknologi rata-rata menggunakan alat-alat modern dengan dokter siaga 24 jam.
  Mawar Renal Medical Centre yang berada di Jalan Rasah Seremban, merupakan rumah sakit khusus untuk penyakit homodialisis atau penyakit ginjal. Inilah satu-satunya rumah sakit di Malaysia yang mengkhususkan merawat orang-orang berpenyakit ginjal.
  Menariknya, rumah sakit ini menggratiskan biaya perawatan bagi warga Malaysia yang dikategorikan miskin. ''Rumah sakit ini bukan untuk komersial, tapi dikhususkan untuk membantu warga miskin,'' kata Dato' DR Yeow Chai Thiam, The Founder and Chairman of Pusat Hemodialisis Mawar and Mawar Renal Medical Centre.
  Bagi warga miskin yang dirawat di Mawar, menurut Yeow, tidak bayar. Yang membayar ke rumah sakit adalah pihak donatur yang bersimpati dengan Mawar. Bagi yang tidak miskin, biaya perawatan juga bisa dinego. Bagi warga asing pun hanya dikenakan cas 200 ringgit. ''Kita tak lihat dari mana orangnya. Asal dia bertempat tinggal di Malaysia dan berstatus warga miskin, biaya perawatan hingga sembuh tidak dikenai sepersen pun,'' katanya lagi.
  Walau pun tidak dibayar dan yang lainnya juga murah, jelas Yeow, peralatan kedokteran di Mawar bukan murahan. Semuanya serba canggih. Saat ini di Mawar ada 200 buah alat canggih untuk mencuci darah. Ada juga alat untuk operasi jantung yang canggih. Untuk biaya, kata Yeow semuanya bisa dibincangkan.
  Kalau KPJ Seremban Specialist Hospital lebih mengkhususkan kepada perawatan penyakit jantung. Dokter spesialis di sini bekerja 24 jam untuk KPJ. Mereka tidak boleh praktek ke rumah sakit lainnya. KPJ punya banyak cabang di Malaysia. Juga ada di Sumatera Barat. Namanya RS Selasih. Tapi kini RS tersebut tinggal puing-puing karena hancur digoyang gempa beberapa waktu lalu. Dari kedua rumah sakit tersebut, selalu menawarkan harga yang terbilang murah di banding beberapa rumah sakit di tempat lainnya.
  Selain berkunjung ke dua rumah sakit, rombongan juga dikenalkan dengan Nilai University College (NUC). Perguruan tinggi yang memfokuskan kepada perbisnisan ini terletak di atas tanah seluas 105 hektare. Kampusnya apik, indah dan asri. Peralatannya serba canggih.
  Kata Eileen Tan, Marketing Management NUC, untuk mahasiswa yang kuliah di Nilai hanya dipungut uang kuliah saja dan biaya hidup selama menuntut ilmu. Uniknya, kuliah di Nilai, ijazahnya dikeluarkan oleh Oxford University dan bisa langsung menuntut S2 di Oxford.
  Perguruan tinggi ini benar-benar serius menggarap dunia perbisnisan. Ada satu jurusan yakni Teknik Perawatan Pesawat Terbang dibuka di universitas ini. Ada juga program Bioteknologi menjadi hal yang diseriusi perguruan tinggi ini.
  Ingin tahu dengan burung onta, bisa datang ke Jelita Impian Jelebu di Seremban yang khusus beternak burung onta. Produk-produk turunan dari burung ini pun diolah menjadi kosmetik. Ini pun menjadi tempat menarik untuk berwisata. Di sini pun bisa mendapatkan Surat Izin Mengendarai (SIM) burung onta. Pengunjung bisa naik punggung onta atau bisa pula menyaksikan pacu burung onta. Pokoknya, asyiklah.
  Mau tahu tentang perjuangan rakyat Malaysia zaman tempo dulu, bisa mengunjungi Muzium Tentara Darat di Port Dickson. Semuanya mengoleksi senjata zaman perjuangan dulu mulai dari yang semi tradisionil hingga modern. Ada juga terowongan partai Komunis yang pernah memberontak di Malaysia. Semuanya dipajang dan dirancang dengan sistem multimedia.
  Empat hari melawat di Negeri Sembilan, belum semua tempat wisata terjalani. Banyak tempat-tempat lain yang patut dikunjungi. Pantainya yang indah, makanannya yang murah, mungkin menjadi salah satu tempat pilihan buat Anda dalam mengisi hari libur.(*)

Di Kampung Pachitan, Tidur di Rumah Bapak Angkat


Bagusnya infrastruktur jalan di Malaysia benar-benar berefek positif kepada rakyatnya. Perekonomian maju, semuanya mudah untuk dijual karena akses sudah terbuka. Kampung-kampung pun berlomba untuk menjual jasa pariwisata kepada pelancong.

Laporan Mhd Nazir Fahmi,
Negeri Sembilan

KAMPUNG Pachitan, Negeri Sembilan adalah salah satunya. Letaknya tak begitu jauh dari Jeti Penumpang Port Dickson. Jalannya besar, sangat mulus serta tertata dengan apik. Kampung ini dikelilingi oleh kebun sawit milik warga di sana.
  Dari namanya, kampung ini mengingatkan dengan sebuah kota di Jawa Timur, Pacitan. Apakah ada hubungannya? Ternyata benar ada. Di Kampung Pachitan, rata-rata penduduknya keturunan Jawa Timur. Makanya, bahasa sehari-hari mereka juga menggunakan Bahasa Jawa. Ngumpul-ngumpul di tepi jalan, bahasa Jawa mereka kedengaran dan sangat kental.
  Di kampung ini tidak ada tempat wisata yang indah, tidak ada pula hotel berbintang. Tapi kampung ini masuk menjadi salah satu tempat tujuan wisata yang dijual oleh Malaysian Association of Tour and Travel Agents (MATTA) Negeri Sembilan. Sudah ribuan orang turis lokal maupun mancanegara menikmati 'keindahan' Kampung Pachitan.
  Di saat kedatangan rombongan DPD Association of the Indonesia Tours and Travel (ASITA) Riau yang dipimpin Ibnu Masud ke kampung ini, turun dari mobil langsung disambut dengan pukulan rebana dan siraman beras kunyit. Di bawah tenda yang sudah disediakan di kampung itu, rombongan pun dipersilakan mencicipi makanan khas di sana. Ada ubi ketuk dan tempe bacem. Benar-benar terasa Jawanya.
  Di saat senja menjelang, pengurus MATTA Negeri Sembilan yang dikomandani Dato Hj Yaacob B Hj Hussin pun mengumumkan nama-nama bapak angkat dan orang-orang yang akan dijadikan anak angkat. Jadi, rombongan ASITA akan dijadikan anak angkat dan akan tidur di rumah bapak angkat.
  Di sinilah letak keunikannya. Bapak angkat pun membawa anak angkat ke rumahnya untuk tidur malam itu. Saya, Ibnu Masud dan Milson Joni, salah seorang anggota ASITA mendapat bapak angkat bernama H Ismail Bin H Harun yang berumur 64 tahun. Dengan mobil kecilnya, kami pun dibawa ke rumahnya di 648 Kg Sawah Pachitan 71960 Lukut, Negeri Sembilan.
  Di rumahnya nan asri, sudah tersedia dua kamar dari enam kamar yang ada di rumah itu untuk kami bertiga menginap malam itu. Fasilitasnya, seperti hotel bintang 3. Ismail pun melayani bak pelayan hotel. Disediakan handuk, air mineral dan berbagai kebutuhan lainnya.
  Ya, rumah Ismail salah satu dari 38 rumah yang dijadikan homestay di Kampung Pachitan. Menurut Ismail, program homestay dimulai sejak tahun 2006. Di Negeri Sembilan ada delapan kampung yang membuka program homestay atas rekomendasi Kementerian Pelancongan Malaysia. Sejak saat itu, sudah ratusan tamu yang menginap di rumahnya dari berbagai negara.
  Menginap di rumah bapak angkat bukannya gratis. Menurut Ismail, kalau orang per orang, biaya satu malamnya 40-50 ringgit Malaysia. Kalau rombongan agak mahal, bisa jadi kena perorangnya 100 ringgit. Ini disebabkan karena adanya penyambutan, penampilan kebudayaan dan lain-lainnya.
  Memang, malam itu diadakan penyambutan dan malam kesenian. Ada gamelan serta penampilan musik rebana dikombinasikan dengan organ. Sebelum acara dimulai, rombongan makan bersama dengan sistem ambang, satu talam untuk lima orang dan makan bersama bapak angkat.  
  Keramahtamahan dan pencampuran kebudayaan itulah yang ditawarkan Kampung Pachitan. Ada juga program mendodos sawit, menderes getah, menangkap ikan di sungai. Semuanya dikerjakan oleh orang kampung.
  Ekonomi kerakyatan, itulah istilahnya. Selain menjual nama daerah, mereka juga bermata pencaharian sebagai pemilik homestay. Program ini menjadi pilihan lain oleh pelancong yang tidak dapat hotel di Kuala Lumpur. Pachitan sangat dekat dengan bandara, harganya pun sangat murah dan meriah.(bersambung)

Rabu, 19 Mei 2010

Beradat Perpatih, Rumah 'Bagonjong' di Mana-mana



Melawat ke Kota 'Daulat Tuanku' Negeri Sembilan, Malaysia (1)

Port Dickson adalah pintu gerbang masuk ke Negeri Sembilan, Malaysia melalui jalur laut. Dari Dumai ke Port Dickson memakan waktu empat jam menggunakan feri. Pelabuhannya bersih dan sangat familiar dengan orang Indonesia. Kata-kata Selamat Datang terpampang sangat besar menghadap ke laut.

Laporan Mhd Nazir Fahmi, 
Negeri Sembilan

TIDAK hanya itu yang familiar, bangunan pelabuhannya sangat dikenal banyak orang di Indonesia. Atap gedung Jeti Penumpang Port Dickson tersebut berarsitek 'Bagonjong', ciri khas rumah adat Minangkabau. Walau tidak begitu runcing gonjongnya, tapi orang akan cepat membaca bahwa itu mirip rumah adat di Sumatera Barat.
  Berdasar ciri khas bangunan ini, Negeri Sembilan memang mirip dengan beberapa negeri di Sumatera Barat. Makanya sejak dulu orang menyebutnya kota kembar dengan Bukittinggi atau Batusangkar yang masih banyak rumah bagonjongnya.
  Dari Port Dickson menuju beberapa negeri nan sembilan lainnya, Seremban misalnya, bangunan bagonjong makin banyak dijumpai. Jembatan-jembatan penyeberangan, gapura hendak masuk tol hingga kantor-kantor tol dibangun dengan gaya tanduk kerbau.
  Lebih dalam menyelami tentang Negeri Sembilan, kita bisa mendatangi Musium Diraja Seri Menanti Kuala Pilah Seremban. Menurut Asrul Effendi Bin Kamaruzzaman, Penolong Kurator Unit Manumen dan Tapak Sejarah Lembaga Muzium Negeri Sembilan saat rombongan DPD Association of the Indonesia Tours and Travel (ASITA) Riau berkunjung, Musium Diraja Seri Meranti merupakan salah satu istana lama Malaysia yang indah dari segi bentuk seni bina tradisional. Dibuat dalam tahun 1905 dan siap pada tahun 1908 oleh tukang kayu yang mahir dan terkenal bernama Kahar dan Taib. Salah satu yang menarik mengenai istana ini adalah dalam pembuatannya tidak menggunakan sebuah pakupun. 
  Istana ini dibangun dengan empat lantai dan ditopang dengan 99 batang kayu. Beberapa kayunya diambil dari Bukittinggi malah. Di tengah-tengah bangunan istana ini didirikan menara yang dinamakan Tingkat Gunung. Struktur atas bangunan menggunakan kayu cengal yang berbentuk Lipatan Gunting. Pada lantai pertama istana ini digunakan sebagai Balai Rong Seri untuk upacara menghadap raja. Lantai ke dua tempat tidur atau ruang istirahat keluarga kerabat raja dan lantai tiga dikhaskan untuk Yang Dipertuan Besar dan tingkat empat sebagai tempat raja memantau rakyatnya.
  Atap istana terbuat dari potongan kayu, tapi tidak bergonjong sebagaimana bangunan lamanya yang dulu pernah dibakar oleh tentara Inggris. Di luar istana ada batu kasur dan replika batu bertikam. Dua batu ini yang aslinya ada di Batusangkar, Sumatera Barat. Di halaman istana ada dua bangunan dengan ciri khas Minangkabau yang saling berhadap-hadapan. Di depannya ada halaman untuk bermain yang dijadikan sebagai Medan nan Bapaneh.
  Di dalam istana, terdapat beberapa catatan-catatan sejarah tentang asal muasal raja-raja di Negeri Sembilan. Dari catatan yang ada dan ditempel di dinding istana, sangat banyak menyebut kata-kata dari Minangkabau dan Pagaruyung. Dari silsilah yang ada membuktikan raja-raja Negeri Sembilan berasal dari keturunan Kerajaan Pagaruyung. 
  Di istana ini semuanya memang ala tradisional. Apa adanya dan belum tersentuh dengan perkembangan multimedia ala musium-musium lainnya. Ingin yang lebih maju dan serba multimedia, kita bisa pergi ke Musium Adat di Jelebu.
  Di Jelebu ini, rasa Minangkabaunya sangat kental. Di musium maupun bangunan di sekitarnya, rata-rata menggunakan atap bagonjong. Persis gonjongnya seperti di Sumatera Barat. Orang-orang di pasar sering menggunakan bahasa Minang dalam kesehariannya.
  Saat rombongan ASITA Riau yang dipimpin Ibnu Masud memasuki musium yang diresmikan tahun 2008 ini, seorang ibu langsung menyambut dengan bahasa Minang yang sangat pas. ''Awak dari Payokumbuah, nenek jo inyiak ambo dari sinan. Tapi awak indak pernah pulang. Indak ado pitih,'' kata Asmerino (43).
  Azmerino yang bersuku Caniago ini mengaku selalu berbahasa Minang di rumah maupun di pasar. Apalagi di pasar banyak orang Minang dan rata-rata menjadi saudagar di Negeri Sembilan. ''Kalau bajumpo, kami alah babahaso Minang sajo,'' jelasnya.
  Di Musium Adat terhimpun cerita berbagai aspek kehidupan masyarakat Malaysia yang dianggap adat. Selain itu juga memamerkan aspek-aspek kehidupan adat melalui artifak dan naratif. Semuanya menjadi produk wisata.
  Musium ini berdiri dengan empat lantai dengan kekhasan berbeda-beda. Ada satu lantai yang khusus menceritakan tentang adat merantau orang Minang yakni di Galeri Aras 3 yakni Adat Perpatih. Di sini akan lebih jelas diceritakan tentang kedatangan orang-orang Minang ke Negeri Sembilan.
  Menurut Rosman Bin Ayub, Pembantu Museum Kanan, Adat Perpatih Negeri Sembilan adalah variasi adat alam Minangkabau. Adat Perpatih melestarikan kehidupan masyarakat tempatan melalui prinsip kerukunan hidup termasuk konsep dan amalan budi, undang-undang, perlembagaan, kuasa adat, kepentingan harta, kekeluargaan, asal muasal alam, dan aspek-aspek kehidupan yang lain.
  Walaupun Adat Perpatih yang diamalkan oleh masyarakat pedalaman Negeri Sembilan telah melalui proses pengubahsuaian, namun dasar adat ini masih kekal yakni menasabkan keturunan berdasarkan garis ibu atau matrilineal dan ini sama dengan di Sumatera Barat.
  Di dalam musium juga dipajang peta-peta perjalanan orang-orang tempo dulu dari Sumatera Barat, lalu ke Siak dan terus ke Malaysia. Juga ada ranji-ranji keturunan raja-raja yang bermula dari Iskandar Zulkarnain. Talempong, kuda lumping, wayang kulit dan gamelan juga dipajangkan sebagai sebuah kebudayaan warga Malaysia.
  Orang-orang di Negeri Sembilan memang susah untuk dibedakan dengan orang Minang. Tidak hanya masalah adat istiadat, dalam hal makanan pun tak jauh-jauh bedanya. Yang namanya masakan bersantan atau gulai, selalu ada dalam menu kalau kita makan di rumah-rumah makan di daerah ini. Semuanya serba kental dan pedas. Wajarlah saat Shanghai World Expo 2010, Malaysia tampil dengan stan ala rumah bagonjong.
  Alamnya juga banyak bukit, gunung, sungai, lembah hingga pantai seperti di Sumatera Barat. Semuanya sudah digarap oleh pihak Kerajaan dan pihak swasta dalam hal ini Malaysian Association of Tour and Travel Agents (MATTA) Negeri Sembilan dengan baik. Semua infrastruktur jalan sudah terbangun ke pusat-pusat pariwisata di negeri ini. Walaupun kendaraannya sepi, tapi tol tetap dibangun demi menunjang pelancongan.(bersambung)

Desa Wisata versus Sate Danguang Danguang

DINGINNYA Lembah Harau, terusir oleh setongkol jagung bakar. Sebungkus sate, terhidang. Aromanya mengelitik perut. “Ini sate danguang dangua...