Total Tayangan Halaman

Sabtu, 13 April 2019

Bersatu Bangun Pariwisata


SINERGI membangun pariwisata di Riau telah kelihatan. Walau baru di atas kertas, ini sebuah langkah maju. Saya katakan, sangat maju. 2018, Pak Gubernur Arsyadjuliandi Rachman telah mengambil langkah tepat. Sangat serius membangun pariwisata. Sangat serius agar terjadi sinergi antar kabupaten/kota di daerah ini.
    Dimulai dari Siak Sriindrapura, sinergi itu mulai terbangun. Pak Bupati Syamsuar kala itu yang sangat getol membangun pariwisata di kabupatennya, tak salah pula dicontoh. Atau diikuti apa yang dia perbuat di Siak. Targetnya, membangun pariwisata dari segala bidang.
    Tour de Siak yang sudah memasuki tahun ke tiga, makin mengokohkan Siak fokus bangun pariwisata. Langkah pak gubernur mempertemukan kabupaten/kota lainnya, patut diacungi jempol. Alhamdulillah, 10 kepala daerah di Riau sudah sepakat memperluas rute Tour de Siak. Makin gegap gempitalah TdS. Makin ramailah pesertanya.
     Asal kita mau, kita pasti bisa melakukannya. Apatah lagi, kalau nanti TdS tersambung ke Malaka. Bakalan luar biasa. Dan nama Riau dengan Sungai Siak-nya akan semakin dikenal ke seantero dunia. Makin banyak pula orang datang dan makin berkembanglah perekonomian di daerah ini.(*)

Jumat, 12 April 2019

Resort di Koto Panjang


DANAU PLTA Koto Panjang Kabupaten Kampar punya potensi besar dikelola jadi destinasi pariwisata di Riau. Bukit-bukit yang hijau. Hamparan air danau yang membiru, indah dipandang. Posisi pun sangat strategis. Di perbatasan Provinsi Riau dan Sumatera Barat. Tempat lalu lalang antara dua provinsi.
     Tapi ada yang kurang. Belum ada pengelolaan. Belum serius penggarapan. Coba kalau ada resort atau hotel di kawasan ini. Dipastikan pariwisatanya akan bergerak sangat kencang. Bisa membius wisatawan lokal di dua provinsi. Atau malah manca negara.
     Akses sangat bagus pula. Dari Pekanbaru hanya dua jam. Dari Bukittinggi bisa putus dua jam juga. Ini masih sesuai standar jalan darat menuju suatu destinasi yang dikeluarkan Kementerian Pariwisata. Ada resort. Lengkap dengan tempat outbond. Pasti banyak peminatnya.
     Dari resort, wisatawan juga bisa dibawa ke Candi Muara Takus. Kan jadi dekat. Atau mereka mau melihat jembatan kelok 9. Juga dekat. Atau hanya sekedar menikmati air terjun yang ada di sekitar danau, jadi tidak letih.
    Tinggal pemerintah serius mencari investor. Mempermudah mereka untuk membangun. Tawarkan potensi yang ada. Saya yakin kita bisa mewujudkan resort atau hotel megah di tepian Danau PLTA Koto Panjang.(*)

Kamis, 11 April 2019

Mobil Listrik

MELIHAT perkembangan Kota Siak Sriindrapura kini, sungguh menakjubkan. Saya taklah apologi. Tak juga karena saya kenal dengan Pak Bupatinya. Tapi semuanya kenyataan. Datanglah ke Siak. Kota ini seperti disulap. Kini, semua sudut kotanya jadi tempat wisata.
    Dulu, orang ke Siak hanya bisa lihat istana. Lalu salat di masjid sultan. Makan udang di Pasar Siak. Nyebrang naik perahu. Tinggalkan Kota Siak. Sampai di Pekanbaru sudah sore. Baju pun lusuh kena debu.
    Sekarang, masuk Kota Siak sudah disuguhkan jembatan yang megah. Taman kota yang asri. Teduh. Jalan-jalan yang lebar dan mulus. Tertata dengan apik. Lantas, ke istana. Puas di istana bisa duduk-duduk di tepi Sungai Siak menikmati manisnya kelapa muda. Tentunya di Water Front City. Inilah gabungan wisata sejarah, budaya dan keindahan alam. Mirip Sungai Seine di Prancis.
    Menyikapi susahnya parkir di Kota Siak, menurut saya mobil listrik untuk mengangkut wisatawan bisa dikembangkan. Jadi bus tidak masuk Kota Siak. Cukup parkir sebelum jembatan. Lalu wisatawan dibawa dengan mobil listrik keliling kota. Kalau susah mobil listrik, bisa pakai mobil dengan modifikasi. Ya, seperti odong-odong mobillah. Saat ini, banyak digunakan di beberapa tempat wisata.
     Untuk tahap awal, bisa disediakan Pemkab. Wisatawan gratis naiknya. Untuk berikutnya mungkin sudah berbayar sangat murah. Sekedar untuk pengganti bahan bakar mobil. Dengan begini, akan menambah bersahajanya Kota Siak. Kita bisa untuk ini.(*)

Rabu, 10 April 2019

Kekurangan Lahan Parkir

INGIN melihat data jumlah wisatawan yang datang ke suatu daerah, dari penumpang pesawat bisa diketahui. Atau bisa juga diketahui dari imigrasi. Dan yang paling mudah itu sebenarnya dari terisi atau tidaknya bus pariwisata. Kita bisa lihat, suatu daerah yang menjadi tujuan pariwisata, biasanya hilir mudik bus-bus pariwisata. Penuh wisatawan.
     Saya ingin berbicara tentang Kota Siak Sriindrapura. Tentunya ada kaitan dengan bus-bus pariwisata tersebut. Apa yang dilakukan Kabupaten Siak dalam empat tahun belakangan, kini sudah melihatkan hasil. Fokus memajukan pariwisata, Siak pun sudah menjadi destinasi pariwisata dunia. Orang ramai datang.
     Di hari-hari tertentu, Kota Siak kini sudah kewalahan lahan parkir. Susah bus-bus pariwisata atau bus carteran lainnya hendak berhenti menunggu penumpangnya. Kota Siak sudah kekurangan lahan parkir.
    Setidaknya, soal lahan parkir ini kini sudah menjadi kerisauan tersendiri buat Pak Bupatinya. Tapi, kata Pak Bupati tidak perlu risau. Pemkab sudah menyiapkan tempat yang lebih lapang buat lahan parkir tersebut. Dan tentu saja menyiapkan rencana-rencana brilian lainnya demi kemajuan pariwisata di Siak Sriindrapura. Asal mau, kita pasti bisa. Kata Pak Bupati.(*)

Selasa, 09 April 2019

Sinergi Anggaran

COBA kalau peningkatan pariwisata diletakkan di poin pertama dalam misi Pembangunan Jangka Menengah Daerah Riau 2014-2019. Saya yakin anggaran di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Riau akan besar. Banyak yang akan dilakukan dalam menggarap pariwisata di daerah ini.
    Tersebab, peningkatan pariwisata berada di posisi 8 dari 9 poin dari misi pembangunan Riau, makanya dinas ini akan selalu ‘miskin’ anggaran. Dan lagi pula pembangunan pariwisata diletakkan di kata akhir dari misi itu. Bunyinya: Meningkatkan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta Pariwisata. Terkesan tidak berminat membangun pariwisata Riau untuk lebih baik.
    Tapi sudahlah. Misi itu sudah dicanangkan sejak 2 tahun lalu. Saat harga minyak dunia lagi mahal. Ketika Dana Bagi Hasil (DBH) Migas masih besar untuk provinsi ini. Kini kita harus menatap jauh ke depan. Bagaimana dunia pariwata ini dibangun agar ada pemasukkan di APBD untuk menggantikan DBH.
    Perlu sinergi anggaran agar bisnis pariwisata Riau bisa berhasil. Membangun pariwisata tidak bisa diserahkan bulat-bulat kepada Dinas Pariwisata. Perlu kerja sama. Jangan berkata: Selesai tu nyo sama Dinas Pariwisata. Tidak. Harus bersama. Semuanya harus peduli pariwisata. Kalau memang kita serius akan membangunnya.
     Akses ke tempat wisata bisa dibangun Dinas PU. Tumpangkan anggarannya di sana. Agar promosi jalan, Humas Provinsi harus jadikan pariwisata sebagai agenda utama dalam publikasi. Wisata tanpa publikasi akan seperti katak dalam tempurung. Dinas Perhubungan bisa memasukkan anggaran untuk membeli bus air atau speedboat yang bisa dipergunakan nantinya untuk dunia pariwisata juga. Atau hanya sekedar memasang rambu-rambu yang menampilkan destinasi pariwisata di Riau. Jadi banyak yang bisa kita lakukan dan kita bisa untuk itu.(*)

Senin, 08 April 2019

Digerakkan Hotel


UNTUK menggerakkan potensi pariwisata di Provinsi Riau, peran sektor swasta sangat diharapkan. Di tengah kondisi penurunan anggaran untuk membangun semua sektor di daerah, pihak swasta bisa ambil peran dengan mengambil posisi sebagai tourismpreneurship. Ikut membangun pariwisata dengan langsung menjadi tour operator.
    Tour operator yang saya maksudkan di sini adalah manajemen hotel. Mengapa saya berbicara soal hotel? Lihatlah bagaimana pertumbuhan hotel di Pekanbaru dalam kurun 2015-2016. Bertumbuh dengan cepat. Dan tentunya hotel akan terus tumbuh. Terus siapa yang akan mengisinya? Siapa yang menginap?
     Diharapkan pemerintah menyediakan fasilitas dan menggerakkan pariwisata, dipastikan akan berjalan lambat. Nah, sekarang pihak hotel harus bisa menjadi tour operator pariwisata. Yang sudah ada, itu yang dijual. Apa yang mudah dijangkau, ke sana wisatawan dibawa.
     Kalaulah hotel ambil peran sebagai tour operator, tentu saja biaya perjalanan bisa ditekan. Paling tidak harga hotelnya bisa diskonlah. Kalau berharap dari agen perjalanan, sudah barang tentu agak sedikit mahal dibanding langsung dikelola oleh hotel.
    Pihak hotel bisa membuat paket perjalanan ke Riau. Tentu saja menginap langsung di hotelnya, lalu mengelola perjalanan ke wilayah tertentu atau serangkaian kegiatan wisata. Memberi kesan nyaman, tentu saja tanggung jawab hotel. Fasilitas hotel juga salah satu destinasi wisata.
    Belum lagi makanan yang disuguhkan berciri khas Melayu juga menjadi daya tarik. Saya yakin hotel-hotel di Pekanbaru bisa melakukan ini dan kita bisa sama-sama memajukan pariwisata di bumi Lancang Kuning ini.(*)

Jumat, 05 April 2019

Wisata Pagi Stadion Utama


SAYANG sejuta sayang. Itulah yang terucap tatkala menikmati pagi di seputaran Stadion Utama Riau. Bekas tempat pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII tahun 2012 itu, kini diselimuti semak belukar. Bangunannya, mulai rusak di mana-mana. Keanggunannya ketika pembukaan PON dulu, sudah sirna. Terbiarkan.
     Padahal, potensi Stadion Utama dijadikan salah satu destinasi pariwisata di Provinsi Riau sangat besar. Kawasannya yang begitu luas, bisa dimanfaatkan untuk menunjang pariwisata. Ornamen-ornamen berciri khas Melayu dan masih ada sekarang, sangat bisa dijual. Ada tanjak. Ada kapal lancang kuning.
     Dua hari usai pembukaan PON di Bandung, saat jalan pagi saya sempatkan mampir ke Stadion Utama. Ternyata, ramai juga yang beraktifitas di pelataran Stadion Utama. Anak-anak muda mendominasi. Banyak juga orangtua yang membawa anak-anaknya. Yang mencari nafkah banyak juga.
     Karena berada di ketinggian, angin bertiup cukup kencang. Sejuk. Pemandangan sekitarnya juga cukup mempesona. Saya berandai-andai melihat kondisi ini. Andailah begini…andailah begitu…Tapi saya yakin Stadion Utama bisa jadi salah satu destinasi kunjungan wisatawan ke Pekanbaru.
     Kita pasti bisa. Harus ada pihak yang mengelola Stadion Utama. Ada yang merawat. Ada yang mengembangkannya. Tidak dirawat saja banyak orang datang sambil melepas lelah habis jalan pagi. Apalagi kalau terawat.(*)

Desa Wisata versus Sate Danguang Danguang

DINGINNYA Lembah Harau, terusir oleh setongkol jagung bakar. Sebungkus sate, terhidang. Aromanya mengelitik perut. “Ini sate danguang dangua...