Total Tayangan Halaman
Rabu, 31 Maret 2010
Ayunan Leighton yang Menakutkan
DUA isu menarik mengguncang Riau dalam dua hari terakhir. Pertama, isu bom di dalam pesawat Riau Airlines (RAL) yang menjadi headline di berbagai media cetak di Riau. Ini kali pertama pesawat milik pemerintah daerah diterpa isu menakutkan tersebut. Walau sempat panik, namun isu tetaplah isu. Tidak terbukti kebenarannya.
Kedua, isu runtuhnya jembatan Siak I atau Leighton dan jembatan Siak II yang melintasi Sungai Siak di Kota Pekanbaru. Ini juga kali pertama kedua jembatan ini diisukan rubuh. Isu ini pun ditanggapi serius oleh banyak pihak di kota ini.
Tak pelak, Kepala Dinas Pemukiman Umum (PU) Provinsi Riau, Firdaus ST MT yang mendapat informasi tersebut langsung turun dan melakukan peninjauan terhadap kedua jembatan tersebut. Firdaus memerintahkan tiga orang stafnya turun ke bawah jembatan untuk melihat kondisi jembatan. Setelah memastikan tidak ada yang retak, atau tanda-tanda membahayakan, tiga orang stafnya langsung melaporkan bahwa kondisi jembatan dalam keadaan baik.
Dari kedua isu ini, untuk soal bom, sepertinya sudah biasa di tanah air. Teror bom dalam beberapa tahun terakhir terjadi di mana-mana. Dari isu bom di pusat perbelanjaan, gedung bertingkat hingga pesawat terbang. Namun untuk isu jembatan rubuh dan itu pun dua buah sekaligus, baru kali ini.
Terlepas dari pekerjaan iseng siapapun orangnya, isu jembatan Leighton rubuh patutlah menjadi perhatian bersama. Memang jembatannya belumlah rubuh, tapi untuk Leighton, kita haruslah waspada. Untungnya baru sekedar isu, coba kalau benar-benar rubuh, dipastikan bakal banyak korban jiwa.
Tanggal 19 April 2010, Jembatan Leighton sudah berusia 33 tahun. Secara rancang bangun, jembatan ini dipersiapkan untuk usia 50 tahun. Kalau dihitung-hitung, tersisa 17 tahun lagi jembatan dengan panjang 350 meter tersebut bisa digunakan.
Namun dalam lima tahun terakhir, jembatan ini sudah mengkhawatirkan banyak orang. Seiring usia, kekuatannya mulai kendur. Ayunannya tidak lagi menyenangkan, tapi sudah menakutkan. Berbagai analisa-analisa bermunculan tentang mulai rapuhnya Leighton. Makanya, untuk mengurangi beban, dipasang portal di kedua sisi jembatan.
Menyikapi semua ini, pihak terkait haruslah bertindak cepat. Jembatan pengganti haruslah disegerakan menyiapkannya. Jangan tunggu rubuh, baru jembatan pengganti selesai dikerjakan. Jangan biarkan warga yang menggunakan jembatan ini terus dihantui ketakutan saat melintas. Sudah saatnya jembatan yang menjadi landmark kebanggaan Kota Pekanbaru tersebut istirahat untuk selamanya.***
Kedua, isu runtuhnya jembatan Siak I atau Leighton dan jembatan Siak II yang melintasi Sungai Siak di Kota Pekanbaru. Ini juga kali pertama kedua jembatan ini diisukan rubuh. Isu ini pun ditanggapi serius oleh banyak pihak di kota ini.
Tak pelak, Kepala Dinas Pemukiman Umum (PU) Provinsi Riau, Firdaus ST MT yang mendapat informasi tersebut langsung turun dan melakukan peninjauan terhadap kedua jembatan tersebut. Firdaus memerintahkan tiga orang stafnya turun ke bawah jembatan untuk melihat kondisi jembatan. Setelah memastikan tidak ada yang retak, atau tanda-tanda membahayakan, tiga orang stafnya langsung melaporkan bahwa kondisi jembatan dalam keadaan baik.
Dari kedua isu ini, untuk soal bom, sepertinya sudah biasa di tanah air. Teror bom dalam beberapa tahun terakhir terjadi di mana-mana. Dari isu bom di pusat perbelanjaan, gedung bertingkat hingga pesawat terbang. Namun untuk isu jembatan rubuh dan itu pun dua buah sekaligus, baru kali ini.
Terlepas dari pekerjaan iseng siapapun orangnya, isu jembatan Leighton rubuh patutlah menjadi perhatian bersama. Memang jembatannya belumlah rubuh, tapi untuk Leighton, kita haruslah waspada. Untungnya baru sekedar isu, coba kalau benar-benar rubuh, dipastikan bakal banyak korban jiwa.
Tanggal 19 April 2010, Jembatan Leighton sudah berusia 33 tahun. Secara rancang bangun, jembatan ini dipersiapkan untuk usia 50 tahun. Kalau dihitung-hitung, tersisa 17 tahun lagi jembatan dengan panjang 350 meter tersebut bisa digunakan.
Namun dalam lima tahun terakhir, jembatan ini sudah mengkhawatirkan banyak orang. Seiring usia, kekuatannya mulai kendur. Ayunannya tidak lagi menyenangkan, tapi sudah menakutkan. Berbagai analisa-analisa bermunculan tentang mulai rapuhnya Leighton. Makanya, untuk mengurangi beban, dipasang portal di kedua sisi jembatan.
Menyikapi semua ini, pihak terkait haruslah bertindak cepat. Jembatan pengganti haruslah disegerakan menyiapkannya. Jangan tunggu rubuh, baru jembatan pengganti selesai dikerjakan. Jangan biarkan warga yang menggunakan jembatan ini terus dihantui ketakutan saat melintas. Sudah saatnya jembatan yang menjadi landmark kebanggaan Kota Pekanbaru tersebut istirahat untuk selamanya.***
Seperti Katak Dalam Tempurung
INDUSTRI pariwisata tidak hanya cukup menjual kemolekan atau keindahan suatu tempat kepada orang lain. Lebih dari itu, aspek penyediaan dan pengadaan sarana serta prasarana penunjang dalam kepariwisataan adalah hal yang sangat penting. Indah betul suatu daerah tidak akan berarti jika untuk menuju ke sana sulitnya minta ampun.
Malaysia dan Singapura adalah negara yang sangat serius menggarap industri pariwisata. Negara ini tidak seperti katak dalam tempurung dalam menyiapkan industri yang akan memberikan pemasukan terus menerus. Negara-negara ini sudah mempersiapkan dari awal agar pariwisatanya laris manis di pasaran dunia.
Awal dari segalanya adalah membangun prasarana, terutama jalan sebagai akses utama. Malaysia membangun tol-tol ke segala penjuru negeri, Singapura pun menyiapkan akses jalan yang nyaman, lebar dan tanpa macet. Tujuan dari semua ini adalah menciptakan ketenangan buat pembeli wisata.
Bagaimana Riau? Daerah ini sebenarnya sangat kaya dengan potensi wisata. Untuk wisata alam, ada Pulau Rupat yang katanya tak kalah eloknya dari Pulau Bali. Untuk wisata budaya, ada Candi Muara Takus, ada pula istana Siak. Ada pula hutan alam seperti Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) dan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT).
Sudahkah semua ini tergarap dan mendatangkan devisa menggiurkan buat daerah? Jawabannya sudah pasti belum. Semuanya belum ada penggarapan serius. Semuanya terkendala jalan dan infrastruktur pendukung lainnya.
Candi Muara Takus misalnya. Untuk sampai ke kawasan budaya ini jalannya minta ampun rusaknya. Dari aspek ini saja, sudah pasti membuat orang enggan datang ke sana. Begitu pula dengan Rupat, Istana Siak, TNTN serta TNBT. Semuanya terkendala jalan.
Tidak hanya pemerintah daerah yang berat menggarap kepariwisataan ini, tangan-tangan pusat juga terlihat enggan membantu Riau agar bisa menjual kemolekan daerahnya. Jalan-jalannya banyak rusak, tol yang diusulkan sejak beberapa tahun lalu, sampai saat ini tak juga ada kejelasan. Padahal dengan terbangunnya tol Pekanbaru-Dumai, sudah pasti banyak yang akan bisa dijadikan jualan buat para turis lokal maupun manca negara.***
Malaysia dan Singapura adalah negara yang sangat serius menggarap industri pariwisata. Negara ini tidak seperti katak dalam tempurung dalam menyiapkan industri yang akan memberikan pemasukan terus menerus. Negara-negara ini sudah mempersiapkan dari awal agar pariwisatanya laris manis di pasaran dunia.
Awal dari segalanya adalah membangun prasarana, terutama jalan sebagai akses utama. Malaysia membangun tol-tol ke segala penjuru negeri, Singapura pun menyiapkan akses jalan yang nyaman, lebar dan tanpa macet. Tujuan dari semua ini adalah menciptakan ketenangan buat pembeli wisata.
Bagaimana Riau? Daerah ini sebenarnya sangat kaya dengan potensi wisata. Untuk wisata alam, ada Pulau Rupat yang katanya tak kalah eloknya dari Pulau Bali. Untuk wisata budaya, ada Candi Muara Takus, ada pula istana Siak. Ada pula hutan alam seperti Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) dan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT).
Sudahkah semua ini tergarap dan mendatangkan devisa menggiurkan buat daerah? Jawabannya sudah pasti belum. Semuanya belum ada penggarapan serius. Semuanya terkendala jalan dan infrastruktur pendukung lainnya.
Candi Muara Takus misalnya. Untuk sampai ke kawasan budaya ini jalannya minta ampun rusaknya. Dari aspek ini saja, sudah pasti membuat orang enggan datang ke sana. Begitu pula dengan Rupat, Istana Siak, TNTN serta TNBT. Semuanya terkendala jalan.
Tidak hanya pemerintah daerah yang berat menggarap kepariwisataan ini, tangan-tangan pusat juga terlihat enggan membantu Riau agar bisa menjual kemolekan daerahnya. Jalan-jalannya banyak rusak, tol yang diusulkan sejak beberapa tahun lalu, sampai saat ini tak juga ada kejelasan. Padahal dengan terbangunnya tol Pekanbaru-Dumai, sudah pasti banyak yang akan bisa dijadikan jualan buat para turis lokal maupun manca negara.***
Selasa, 08 Desember 2009
Skenario Besar sang Kancil
KETIKA hiruk pikuk rekaman percakapan Anggodo diputar di depan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait kriminalisasi pimpinan KPK, hati rakyat benar-benar tersayat. Beberapa hari rekaman itu menjadi perbincangan hangat di pelosok negeri. Di tengah riuh rendahnya rekaman yang menyeret nama-nama terkenal di republik ini, tiba-tiba Wiliardi Wizar membuat kejutan. Ia mengaku ditekan petinggi Polri dalam membuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Targetnya, Antasari Azhar masuk perangkap.
Walaupun masih sama-sama kasus KPK, namun pengakuan Wizar kembali menyentak relung hati orang banyak. Hiruk-pikuk rekaman Anggodo, mulai pudar. Kini, sibuk pengakuan Wiliardi Wizar. Kasus bencana alam seperti gempa, saat ini kalah ngetren dibanding masalah cicak dan buaya.
Walaupun cukup memerahkan muka pimpinan di Polri, lembaga ini pun membuat serangan balik. Polisi juga membuat pengakuan yang mementahkan kesaksian Wiliardi Wizar. Sampai-sampai video klip Wiliardi saat pembuatan BAP pun diputar di muka umum.
Intisari persoalannya adalah pengakuan. Dalam pengakuan, ada yang benar-benar jujur dan ada yang benar-benar bohong. Namun saat ini antara yang jujur dan bohong sangat susah untuk membedakan. Kini, kejujuran sering dibungkus dengan kebohongan dan dijadikan satu paket. Lalu, diselingi dengan sumpah.
Cicak dan buaya memang lagi berseteru. Tapi kancil berperan besar dalam perseteruan ini. Kancil, terkenal dengan binatang yang cerdik dan juga licik. Dalam berbagai cerita untuk penina bobok jelang tidur, kancil selalu jadi pemenang. Siapapun lawannya, tetap kancillah yang menang.
Ya itulah kancil. Semua cara dipakainya untuk menyelamatkan dirinya. Berbohong, adalah senjatanya. Tak peduli lawannya celaka akibat pengakuannya. Yang penting dirinya selamat. Saat terperangkap sekalipun, kancil masih bisa menipu yang lain. Teman dekatnya sanggup dia korbankan dengan berbagai skenario besar.
Dari ketiga binatang ini, tak ada yang baik sifatnya. Cicak, termasuk binatang yang dibenci Rasulullah SAW. Dalam suatu riwayat, cicak satu-satunya binatang yang tak mau mendinginkan api saat Nabi Ibrahim AS dibakar. Malah cicak selalu menyemburkan api dari mulutnya. Apalagi buaya, sudah pahamlah orang dengan sifatnya. Ada air mata buaya, buaya darat, dan buaya-buaya lainnya.
Namun, berbagai persoalan di negeri ini, seakan-akan sudah diskenario dengan apik sehingga satu episode dengan episode lainnya saling sambung menyambung. Ibarat sinetron, satu episode selalu ratingnya tinggi agak beberapa hari. Lalu, muncul lagi sinetron berikut yang mengubur sinetron sebelumnya. Entah kapan ending-nya.(*)
Walaupun masih sama-sama kasus KPK, namun pengakuan Wizar kembali menyentak relung hati orang banyak. Hiruk-pikuk rekaman Anggodo, mulai pudar. Kini, sibuk pengakuan Wiliardi Wizar. Kasus bencana alam seperti gempa, saat ini kalah ngetren dibanding masalah cicak dan buaya.
Walaupun cukup memerahkan muka pimpinan di Polri, lembaga ini pun membuat serangan balik. Polisi juga membuat pengakuan yang mementahkan kesaksian Wiliardi Wizar. Sampai-sampai video klip Wiliardi saat pembuatan BAP pun diputar di muka umum.
Intisari persoalannya adalah pengakuan. Dalam pengakuan, ada yang benar-benar jujur dan ada yang benar-benar bohong. Namun saat ini antara yang jujur dan bohong sangat susah untuk membedakan. Kini, kejujuran sering dibungkus dengan kebohongan dan dijadikan satu paket. Lalu, diselingi dengan sumpah.
Cicak dan buaya memang lagi berseteru. Tapi kancil berperan besar dalam perseteruan ini. Kancil, terkenal dengan binatang yang cerdik dan juga licik. Dalam berbagai cerita untuk penina bobok jelang tidur, kancil selalu jadi pemenang. Siapapun lawannya, tetap kancillah yang menang.
Ya itulah kancil. Semua cara dipakainya untuk menyelamatkan dirinya. Berbohong, adalah senjatanya. Tak peduli lawannya celaka akibat pengakuannya. Yang penting dirinya selamat. Saat terperangkap sekalipun, kancil masih bisa menipu yang lain. Teman dekatnya sanggup dia korbankan dengan berbagai skenario besar.
Dari ketiga binatang ini, tak ada yang baik sifatnya. Cicak, termasuk binatang yang dibenci Rasulullah SAW. Dalam suatu riwayat, cicak satu-satunya binatang yang tak mau mendinginkan api saat Nabi Ibrahim AS dibakar. Malah cicak selalu menyemburkan api dari mulutnya. Apalagi buaya, sudah pahamlah orang dengan sifatnya. Ada air mata buaya, buaya darat, dan buaya-buaya lainnya.
Namun, berbagai persoalan di negeri ini, seakan-akan sudah diskenario dengan apik sehingga satu episode dengan episode lainnya saling sambung menyambung. Ibarat sinetron, satu episode selalu ratingnya tinggi agak beberapa hari. Lalu, muncul lagi sinetron berikut yang mengubur sinetron sebelumnya. Entah kapan ending-nya.(*)
Senin, 07 Desember 2009
Belajar Tiga Tahun, Pupus oleh UN Tiga Hari
WALAU pelaksanaannya beberapa bulan lagi, Ujian Nasional alias UN kini menjadi perbincangan hangat. Di tingkat elit pendidikan, UN menjadi polemik. Di tingkat pelajar, UN kini bagai momok yang menakutkan. Banyak sudah korban berjatuhan akibat vonis UN. Korbannya tidak pandang bulu, si jenius pun ada yang gagal masuk perguruan tinggi gara-gara gagal dalam UN beberapa hari saja. Sebaliknya, si bodoh bergelimang uang terlihat berprestasi karena tiga hari yang menyesakkan itu.
Pertanyaannya, adilkah ini untuk mereka-mereka yang menjalani 'sidang terakhir' tersebut? Apa penghargaan atas upaya mereka menuntut ilmu selama tiga tahun? Haruskah berjibaku selama tiga tahun dikandaskan oleh ujian yang hanya tiga atau empat hari?
Secara teoritis, UN memiliki dampak positif bagi mutu pendidikan di tanah air ini. Hanya saja, seharusnya jangan jadikan UN sebagai penentu satu-satunya lulus atau tidak lulusnya seorang anak didik. Inilah yang memunculkan rasa ketidakadilan buat anak didik. Mereka bertahun-tahun menuntut ilmu, lalu dipupuskan oleh UN yang tiga hari. Si anak akan mengalami tekanan perasaan saat hendak UN, dan frustrasi ketika hasil UN keluar.
Peraturan dalam dunia pendidikan di Indonesia terus mengalami pasang surut. Ganti menteri, ganti kebijakan. Begitu pula halnya dalam kurikulum. Semestinya sebuah kebijakan itu bisa terus diterapkan, tapi karena ingin terkenal, lalu ganti kebijakan. Lantas korban pun berjatuhan.
1985, adalah tahun pertama dimulainya Evaluasi Belajar Tahap Akhir (Ebtanas). Dari Ebtanas melahirkan Nilai Ebtanas Murni atau NEM. Ujian ini diselenggarakan secara nasional pada tingkat akhir sekolah dasar dan sekolah menengah. Sistem ini mulai diperkenalkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (pada saat itu) Prof Dr Nugroho Notosusanto.
Nilai Ebtanas Murni ini selain sebagai salah satu indikator kelulusan siswa, juga sebagai satu-satunya penentu kompetisi masuk sekolah negeri di level berikutnya, kecuali untuk tingkat universitas yang memiliki sistem penerimaan tersendiri (yaitu Sipenmaru yang kemudian berganti menjadi UMPTN dan akhirnya SPMB).
Sebenarnya Ebtanas sudah cukup baik. Untuk tempat ujiannya dilaksanakan di sekolah lain dan pengawasnya pun guru-guru dari lain sekolah. Ada juga pengawas dari kepolisian. Hanya saja, Ebtanas ini bukanlah satu-satunya penentu lulus atau tidak lulus seorang siswa kala itu.
Dari Ebtanas, didapatkan NEM. Kalau NEM-nya tinggi, si anak bisa melanjutkan ke sekolah yang lebih baik. Walaupun NEM-nya jeblok, rata-rata saat itu tingkat kelulusan sangat tinggi. Kalau mereka ikut ujian, dipastikan bisa menamatkan tingkat pendidikannya alias lulus.
Di sinilah adanya peran guru dan sekolah bersangkutan. Yang sangat memahami tentang siswa adalah gurunya sendiri. Walaupun seorang siswa NEM-nya rendah, tapi di STTB-nya dinyatakan lulus berdasarkan berbagai pertimbangan. Yang sangat penting, si anak tidak lagi mengulang tahun berikutnya dan dia bisa menamatkan sekolahnya. Tidak ada istilah frustrasi. Kalau si anak pintar, nilainya terdongkrak di STTB dan NEM-nya pun baik. Ketika akan menghadapi ujian, si anak tidak menghadapi tekanan perasaan. Bayang-bayang tidak lulus sangat jauh. Asal, si anak ikut Ebtanas.
Saat ini, semua pihak haruslah realistis menyikapinya. Janganlah bertahan dengan sebuah kebijakan yang tidak bijak. Kalau UN tidak bijak, saatnya diperbaiki. Lihat juga kebijakan-kebijakan yang sudah diterapkan sebelumnya. Bak kata pepatah; kalau sesat di ujung jalan, kembalilah ke pangkal jalan.***
Pertanyaannya, adilkah ini untuk mereka-mereka yang menjalani 'sidang terakhir' tersebut? Apa penghargaan atas upaya mereka menuntut ilmu selama tiga tahun? Haruskah berjibaku selama tiga tahun dikandaskan oleh ujian yang hanya tiga atau empat hari?
Secara teoritis, UN memiliki dampak positif bagi mutu pendidikan di tanah air ini. Hanya saja, seharusnya jangan jadikan UN sebagai penentu satu-satunya lulus atau tidak lulusnya seorang anak didik. Inilah yang memunculkan rasa ketidakadilan buat anak didik. Mereka bertahun-tahun menuntut ilmu, lalu dipupuskan oleh UN yang tiga hari. Si anak akan mengalami tekanan perasaan saat hendak UN, dan frustrasi ketika hasil UN keluar.
Peraturan dalam dunia pendidikan di Indonesia terus mengalami pasang surut. Ganti menteri, ganti kebijakan. Begitu pula halnya dalam kurikulum. Semestinya sebuah kebijakan itu bisa terus diterapkan, tapi karena ingin terkenal, lalu ganti kebijakan. Lantas korban pun berjatuhan.
1985, adalah tahun pertama dimulainya Evaluasi Belajar Tahap Akhir (Ebtanas). Dari Ebtanas melahirkan Nilai Ebtanas Murni atau NEM. Ujian ini diselenggarakan secara nasional pada tingkat akhir sekolah dasar dan sekolah menengah. Sistem ini mulai diperkenalkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (pada saat itu) Prof Dr Nugroho Notosusanto.
Nilai Ebtanas Murni ini selain sebagai salah satu indikator kelulusan siswa, juga sebagai satu-satunya penentu kompetisi masuk sekolah negeri di level berikutnya, kecuali untuk tingkat universitas yang memiliki sistem penerimaan tersendiri (yaitu Sipenmaru yang kemudian berganti menjadi UMPTN dan akhirnya SPMB).
Sebenarnya Ebtanas sudah cukup baik. Untuk tempat ujiannya dilaksanakan di sekolah lain dan pengawasnya pun guru-guru dari lain sekolah. Ada juga pengawas dari kepolisian. Hanya saja, Ebtanas ini bukanlah satu-satunya penentu lulus atau tidak lulus seorang siswa kala itu.
Dari Ebtanas, didapatkan NEM. Kalau NEM-nya tinggi, si anak bisa melanjutkan ke sekolah yang lebih baik. Walaupun NEM-nya jeblok, rata-rata saat itu tingkat kelulusan sangat tinggi. Kalau mereka ikut ujian, dipastikan bisa menamatkan tingkat pendidikannya alias lulus.
Di sinilah adanya peran guru dan sekolah bersangkutan. Yang sangat memahami tentang siswa adalah gurunya sendiri. Walaupun seorang siswa NEM-nya rendah, tapi di STTB-nya dinyatakan lulus berdasarkan berbagai pertimbangan. Yang sangat penting, si anak tidak lagi mengulang tahun berikutnya dan dia bisa menamatkan sekolahnya. Tidak ada istilah frustrasi. Kalau si anak pintar, nilainya terdongkrak di STTB dan NEM-nya pun baik. Ketika akan menghadapi ujian, si anak tidak menghadapi tekanan perasaan. Bayang-bayang tidak lulus sangat jauh. Asal, si anak ikut Ebtanas.
Saat ini, semua pihak haruslah realistis menyikapinya. Janganlah bertahan dengan sebuah kebijakan yang tidak bijak. Kalau UN tidak bijak, saatnya diperbaiki. Lihat juga kebijakan-kebijakan yang sudah diterapkan sebelumnya. Bak kata pepatah; kalau sesat di ujung jalan, kembalilah ke pangkal jalan.***
Jumat, 04 Desember 2009
Mengendalikan Nafsu Kehewanan
KISRUH di ruang dewan kembali terjadi di tanah Melayu ini. Kalau sebelumnya terjadi perkelahian terbuka sesama anggota dewan di Dumai, Rabu (2/12) giliran DPRD Inhu yang 'ramai'. Gara-gara salah sebut, papan nama dan gelas beterbangan ke hadapan Kasat Lantas Polres Inhu. Anggota DPRD pun mengamuk. Mengapa begitu mudah anak bangsa saat ini tersulut marah dan mengumbar amukan?
Kejadian salah sebut antara Anggota Dewan dengan Anggota Hewan oleh Kasat Lantas Polres Inhu dalam sosialisasi di depan anggota DPRD Inhu, seharusnya disikapi tanpa mengumbar nafsu. Memang, kesabaran itu ada batasnya. Tapi kalau kita sanggup bersabar, adalah salah satu derajat tertinggi dalam keimanan. Beberapa kali Rasulullah SAW diludahi seorang kafir, namun dia tetap bersabar. Malah saat sang kafir itu sakit, Rasul menjenguknya. Akhirnya si kafir masuk Islam gara-gara terpesona dengan kesabaran Rasulullah.
Secara psikologi, memang cukup dalam ketersinggungan tatkala seseorang menyebut kita dengan hewan, apalagi sampai berkali-kali. Namun, sebagai manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsu haruslah bersikap lebih bijaksana. Bukankah mengendalikan hawa nafsu itu sebagai bentuk pembedaan antara manusia dengan hewan. Walaupun Aristoteles sendiri menyebut manusia adalah hewan yang berakal atau animale humaniora.
Apatah lagi kita baru saja melaksanakan hari raya kurban. Sisa-sisa daging kurban pun kemungkinan masih tersimpan di rumah-rumah. Hikmah berkurban pun masih terngiang di telinga ketika khatib salat Idul Adha kembali membuka lembaran sejarah tentang ibadah tersebut.
Dari banyak hikmah yang ada dalam ritual kurban adalah makna penyembelihan. Pemotongan hewan kurban merupakan simbol tentang pentingnya kita menghilangkan hawa nafsu kehewanan yang kadang-kadang muncul dalam diri manusia, agar kita lebih termotivasi dan lebih mengedepankan rasa kemanusiaan dan hati nurani kemanusiaan dari pada rasa kehewanan dan sifat-sifat hewan yang lainnya yang cenderung mengedepankan hawa nafsu.
Satu kesalahan cakap terhitung kedalam kekhilafan. Tapi kalau cakap yang salah dilakukan berulang-ulang, inilah yang membuat kita celaka. Seperti kata pepatah: Hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali. Nabi Muhammad SAW juga melarang kita berperilaku seperti keledai dari hadis riwayat Abu Hurairah ra: Dari Nabi SAW, beliau bersabda: Seorang mukmin tidak boleh dua kali jatuh dalam lubang yang sama.(Shahih Muslim).***
Kejadian salah sebut antara Anggota Dewan dengan Anggota Hewan oleh Kasat Lantas Polres Inhu dalam sosialisasi di depan anggota DPRD Inhu, seharusnya disikapi tanpa mengumbar nafsu. Memang, kesabaran itu ada batasnya. Tapi kalau kita sanggup bersabar, adalah salah satu derajat tertinggi dalam keimanan. Beberapa kali Rasulullah SAW diludahi seorang kafir, namun dia tetap bersabar. Malah saat sang kafir itu sakit, Rasul menjenguknya. Akhirnya si kafir masuk Islam gara-gara terpesona dengan kesabaran Rasulullah.
Secara psikologi, memang cukup dalam ketersinggungan tatkala seseorang menyebut kita dengan hewan, apalagi sampai berkali-kali. Namun, sebagai manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsu haruslah bersikap lebih bijaksana. Bukankah mengendalikan hawa nafsu itu sebagai bentuk pembedaan antara manusia dengan hewan. Walaupun Aristoteles sendiri menyebut manusia adalah hewan yang berakal atau animale humaniora.
Apatah lagi kita baru saja melaksanakan hari raya kurban. Sisa-sisa daging kurban pun kemungkinan masih tersimpan di rumah-rumah. Hikmah berkurban pun masih terngiang di telinga ketika khatib salat Idul Adha kembali membuka lembaran sejarah tentang ibadah tersebut.
Dari banyak hikmah yang ada dalam ritual kurban adalah makna penyembelihan. Pemotongan hewan kurban merupakan simbol tentang pentingnya kita menghilangkan hawa nafsu kehewanan yang kadang-kadang muncul dalam diri manusia, agar kita lebih termotivasi dan lebih mengedepankan rasa kemanusiaan dan hati nurani kemanusiaan dari pada rasa kehewanan dan sifat-sifat hewan yang lainnya yang cenderung mengedepankan hawa nafsu.
Satu kesalahan cakap terhitung kedalam kekhilafan. Tapi kalau cakap yang salah dilakukan berulang-ulang, inilah yang membuat kita celaka. Seperti kata pepatah: Hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali. Nabi Muhammad SAW juga melarang kita berperilaku seperti keledai dari hadis riwayat Abu Hurairah ra: Dari Nabi SAW, beliau bersabda: Seorang mukmin tidak boleh dua kali jatuh dalam lubang yang sama.(Shahih Muslim).***
Langganan:
Postingan (Atom)
Desa Wisata versus Sate Danguang Danguang
DINGINNYA Lembah Harau, terusir oleh setongkol jagung bakar. Sebungkus sate, terhidang. Aromanya mengelitik perut. “Ini sate danguang dangua...
-
Di Provinsi Zhejiang Republik Rakyat Cina, ada seorang anak laki-laki bernama Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada ayahnya, hidupnya yan...
-
INGIN melihat data jumlah wisatawan yang datang ke suatu daerah, dari penumpang pesawat bisa diketahui. Atau bisa juga diketahui dari imig...
-
DANAU PLTA Koto Panjang Kabupaten Kampar punya potensi besar dikelola jadi destinasi pariwisata di Riau. Bukit-bukit yang hijau. Hamparan...
