Total Tayangan Halaman

Senin, 01 Juli 2019

Cuci Mata di Mal


LIBUR anak-anak sekolah, plus liburan kalender merah, mal di Kota Pekanbaru benar-benar penuh sesak. Belum lagi mal buka, lahan parkir sudah penuh. Macet di pintu masuk. Parkiran kendaraan pun meluber di luar mal. Memanfaatkan pekarangan milik orang lain. Ampun…ampun. Mal begitu jadi magnet di Pekanbaru saat ini.
     Ya, mal jadi destinasi pariwisata di Riau. Dari kabupaten kota, jika liburan, datang ke ibu kota provinsi. Menginap di hotel. Lalu cuci mata di mal. Tentunya, belanja jugalah. Atau sekedar mencicipi kuliner mal yang beragam.
     Kota Pekanbaru harus siap memberi laluan yang aman buat wisatawan lokal ini. Pasti terjadi penumpukan kendaraan di suatu wilayah. Jalanan macet. Akses ini harus jauh-jauh hari diamankan oleh pemerintah kota. Kalau tidak, jalanan di sekitar mal akan sembrawut. Wisatawan tidak nyaman.(*)

Sabtu, 29 Juni 2019

Siak Kota Pusaka


KESERIUSAN Bupati Siak Drs H Syamsuar MSi mengembangkan pariwisata tak diragukan lagi. Selain terus membangun Kota Siak Sriindrapura menjadi sangat cantik dan eksotis, upaya mengangkat nama Siak ke kancah nasional dan internasional terus digelorakannya.
     15 Desember lalu, Siak berhasil masuk sebagai salah satu Kota Pusaka milik bangsa Indonesia. Dibuktikan dengan penandatanganan piagam komitmen dalam bentuk MoU setelah menanti selama 2 tahun. Ini menggenapkan kota pusaka di Indonesia menjadi 54.
     Siak Sri Indrapura satu-satunya diakui sebagai Kota Pusaka Indonesia dari Provinsi Riau.
Penetapannya bagian dari Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP) Kementerian PUPR, pada Dirjen Cipta Karya. Program ini dibentuk sebagai upaya nyata melestarikan aset-aset pusaka bangsa yang tersebar di penjuru Indonesia.
      Saya yakin Pak Bupatinya tidak akan berpuas diri sampai di sini saja. Ada lagi yang lebih menginternasional. Kota Warisan Dunia dari UNESCO. Ya, saya yakin Siak bisa meraih ini. Kalau kita serius, pasti bisa.(*)

Jumat, 28 Juni 2019

Akses Baru ke Riau


AKSESIBILITAS. Ini penunjang utama dunia pariwisata. Makin mudah orang datang ke suatu lokasi wisata, maka makin cepat pula maju destinasi tersebut. Sebagian besar tujuan orang berwisata adalah untuk bersenang-senang. Kalau mencapai suatu tempat wisata sudah susah, untuk kedatangan berikutnya pasti muncul kata-kata kapok.
     Terbukanya akses lewat udara, menandakan perkembangan yang menggembirakan bagi suatu daerah. Selain mempercepat waktu tempuh, banyaknya maskapai yang membuka rute akan mempermurah harga tiket.
     Saat ini bagi Riau dan Sumatera Barat ada tambahan berita menggembirakan. Setelah Wings Air membuka rute Pekanbaru-Padang setiap hari, giliran Sriwijaya Air terbangi rute ini dua kali dalam sepekan. Berkah baru bagi wisatawan yang akan menikmati keelokan dua daerah ini. Apalagi saat musim liburan, ini pilihan lain transportasi. Tidak macet dan cepat sampai ke daerah tujuan. Kita harus bisa memanfaatkan kondisi ini.(*)

Kamis, 27 Juni 2019

Harus Makin Baik

TAHNIAH. Riau menyabet juara umum dalam Anugerah Pesona Indonesia (API) 2017.  Ini kegiatan kali kedua diadakan sebuah situs traveling bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata. Tahun sebelumnya, juara umum diraih Provinsi Nusa Tenggara Timur.
   Ada tujuh anugerah yang diraih oleh Riau; makanan tradisional terpopuler Bolu Berendam Indragiri Hulu, situs sejarah terpopuler Istana Siak Kabupaten Siak, tempat berselancar terpopuler Bono Kabupaten Pelalawan.
    Selanjutnya, atraksi budaya terpopuler Bakar Tongkang Kabupaten Rokan Hilir, festival pariwisata terpopuler, Pacu Jalur Kabupaten Kuantan Singingi, minuman tradisional terpopuler Laksamana Mengamuk dan objek wisata belanja terpopuler, Pasar Bawah, Pekanbaru.

     Tentunya, dengan penghargaan ini, kita harus terus berbenah. Harus makin baik dari kondisi sebelumnya. Jangan nanti saat wisatawan datang ke Riau ingin mencoba makanan tradisional terpopuler tersebut, ternyata kita tidak bisa menyajikan. Atau ketika mereka ingin mendapatkan minuman tradisional, susah dicari. Yang sudah ada ayo kita jaga dan lestarikan.(*)

Rabu, 26 Juni 2019

Sesuatu yang Baru


SAYA masih mau melanjutkan pembahasan soal wisata minat khusus. Jujur, destinasi wisata ini sangat banyak di Provinsi Riau. Bagus-bagus sebenarnya. Kita bisa untuk semua ini. Tinggal serius dalam pengembangannya. Wisata minat khusus adalah bentuk perjalanan wisata, dimana wisatawan mengunjungi suatu tempat karena memiliki minat khusus dari obyek atau kegiatan di daerah tujuan wisata.
    Pariwisata minat khusus pelakunya cenderung untuk memperluas pencariannya yang berbeda dengan mengamati orang, budaya, pemandangan, kegiatan kehidupan sehari-hari, serta nilai-nilai akrab lingkungan. Bentuk kegiatan maupun pengalaman yang diharapkan sangat beragam. Wisatawan minat khusus ingin mengalami sesuatu yang baru, apakah itu sejarah, makanan, olah raga, kebiasaan, atau kegiatan di luar ruangan. Banyak yang berharap bisa menikmati pemandangan, suara, bau, rasa yang baru, dan memahami tempat yang baru beserta masyarakatnya.(*)

Senin, 24 Juni 2019

Wisata Minat Khusus


BANYAK tempat-tempat bagus di Provinsi Riau yang bisa dijadikan destinasi baru pariwisata. Terutama wisata alam. Untuk mencapainya memang harus bersusah payah dulu. Masih jauh dari kota-kota utama. Saya lihat, Dinas Pariwisata Riau sangat konsen mengeskpose tempat-tempat baru ini. Tempatnya menarik. Tapi, orang-orang tertentu saja yang akan mendatangi tempat ini. Istilahnya, untuk wisatawan minat khusus.
     Memang, sejak era 1990, pasar pariwisata mengalami pergeseran. Dari wisatawan masif kepada wisatawan individual. Perubahan dunia pada berbagai aspek telah mengubah pola konsumsi berwisata. Fenomena global tersebut dalam kepariwisataan diikuti dengan munculnya wisata minat khusus, yang disebut wisata alternatif. Tempat yang jauh, jalan kaki, berlumpur ada peminatnya. Saya sepakat dengan Pak Kadis Pariwisata. Ini bisa dikembangkan di Riau.(*)

Jumat, 21 Juni 2019

Tepi Sungai Siak Tak Tergarap


KETIKA Bus Air Senapelan (BAS) aktif lagi September 2016, saya sangat senang. Jujur, saya belum pernah mencoba naik BAS. Tapi, satu moda transportasi untuk melayani wisatawan di Kota Pekanbaru sudah tersedia. Walau hanya beroperasi Sabtu dan Ahad, lumayanlah untuk destinasi baru buat pelancong. Tentu untuk mengarungi Sungai Siak. Bil khusus sekitaran Pekanbaru saja.
      Tapi, akhir Oktober lalu, BAS tidak lagi beroperasi. Sepi penumpang. Tak ada penumpang, berarti sepi wisatawan. Apa wisatawan tak berminat? Saya yakin, 99,9 persen karena wisatawan tak berminat. Tak ada yang akan dilihat di sepanjang jalur perjalanan. Apalagi, tepian Sungai Siak yang belum tergarap dengan baik. Coba kalau seperti tepian Sungai Jantan di Siak Sriindrapura. Saya yakin banyak peminatnya. Ayo Pekanbaru, kita bisa mewujudkannya.(*)

Desa Wisata versus Sate Danguang Danguang

DINGINNYA Lembah Harau, terusir oleh setongkol jagung bakar. Sebungkus sate, terhidang. Aromanya mengelitik perut. “Ini sate danguang dangua...