Total Tayangan Halaman

Selasa, 14 Mei 2013

Intip Penyu Bertelur, Takut Ada Ular Merah





Menikmati Malam di Gugusan Kepulauan Arwah, Rokan Hilir (2)

Selain istilah Pulau Jemur, beberapa kalangan di pesisir sekitar Rokan Hilir, Riau menyebut pulau ini dengan sebutan 'Pak-ku' yang dalam dialek Hokkian berarti penyu dari utara.

Catatan Mhd Nazir Fahmi, Pulau Jemur

DARI 250 hektare luas Pulau Jemur, lebih separuhnya merupakan bukit batu. Dindingnya cukup terjal dan menghujam ke dasar laut. Ada sedikit pantai, tapi banyak bebatuan berwarna hitam. Runcing-runcing. Warna pasirnya agak kuning. Agak kasar sedikit.
   Sebagian lain dari pulau, ditumbuhi pepohonan. Pohon kelapa dan mangga mendominasi. Selebihnya pohon besar dan kecil yang tidak berbuah. Di beberapa tempat di pulau teduh dengan pohon. Tempat lainnya terlihat gersang karena bukit batu.
   ''Kalau keindahan pulau tidaklah. Pantainya juga tak banyak dan tak bisa dinikmati. Pulau Jemur tidak bisa dijual untuk pariwisata. Hanya penyu hijau yang bisa dikedepankan untuk menjual paket wisata ke daerah ini,'' kata Ketua Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita) Riau, Drs Ibnu Masud kepada Riau Pos.
   Ya, hanya penyu hijau yang menjanjikan dari Pulau Jemur. Penyu hijau menjadi sangat unik karena banyak terdapat di perairan sekitar Pulau Jemur. ''Bulan Mei, saat yang tepat untuk melihat penyu hijau bertelur di pantai Pulau Jemur. Pada bulan ini musim kawin juga,'' kata Doni, warga yang sering bolak balik Bagansia pi-api-Pulau Jemur.
   Menurut Doni, yang juga sering menjadi pemandu wisata ke Pulau Jemur, untuk menikmati penyu bertelur waktu yang paling tepat adalah tengah malam. Saat itulah penyu naik, menggali lubang lalu bertelur.
   Tidak mudah untuk bisa menyaksikan penyu bertelur. Harus hati-hati. Penyu sangat sensitif. Nampak puntung rokok satu saja, penyunya tak jadi bertelur dan kembali ke laut. ''Kalau penyu sudah menggali lubang dan mulai bertelur, kita bisa mendekat. Bisa melihat langsung saat penyu mengeluarkan telur-telurnya,'' kata Doni lagi.
   Penyu hijau petelur yang luar biasa. Sekali bertelur, penyu hijau menghasilkan 150 butir. Setiap malam, ada 15 ekor penyu hijau yang naik ke Pulau Jemur untuk bertelor. Kalau ditotalkan, setiap malamnya ada 2.250 telur penyu dalam pasir di Pulau Jemur. Kalau satu bulan atau setahun, sungguh telur yang begitu banyak diantarkan penyu ke Pulau Jemur.
   Sepengetahuan Doni, dalam satu tahun anak penyu yang dilepas kan dari Pulau Jemur sebanyak 300 ekor saja. Ini hanya 0,04 persen saja dari jumlah telur yang dicurahkan penyu di Pulau Jemur. Selebihnya pada kemana telur-telur itu?
   Malam itu, saya benar-benar ingin melihat penyu hijau bertelur. Namun keinginan kuat untuk menyaksikan penyu bertelur dikalahkan dengan ketakutan pada gigitan ular berbisa yang banyak di Pulau Jemur. ''Hati-hati di Pulau Jemur, banyak Ular Merah. Ularnya kecil, tapi kalau mematuk, bisanya membuat korban lumpuh dan harus cepat ditangani di rumah sakit,'' kata Aripin, seorang anggota TNI AL kepada Riau Pos.
   Kata Doni, saat subuh penyu juga masih di darat. Masih bisa disaksikan. Niat hati ingin berdayung ke Pulau Jemur dari kapal yang kami sewa pada pagi hari, ternyata dibatalkan karena besarnya gelombang. Pagi itu hujan. Petir lagi.
   Namun habis salat subuh, dari kapal kelihatan penyu pada turun ke laut. Di pantai terlihat garis paralel bekas tubuh penyu yang bergesekan dengan pasir. Banyak bekas-bekas tubuh penyu itu di pantai. Dari kejauhan saya juga melihat cahaya senter di pantai. Terlihat seseorang sedang menggali sarang tempat bertelur penyu hijau di Pulau Jemur tersebut.
   Beberapa waktu lalu, di Pulau Jemur ini sudah dicanangkan sebagai tempat penangkaran penyu hijau. Ini sebagai langkah menjaga kelestarian penyu hijau sebagai hewan langka yang dilindungi. Tidak tahu pasti apa kegiatan ini masih berlangsung. Yang pasti, telur-telur penyu banyak dibawa keluar Pulau Jemur. Diper jualbelikan.
   ''Kalau ingin Pulau Jemur dikenal dan menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), konservasi penyu hijau kuncinya. Ini yang dijual ke luar. Jual agenda penglepasan anak penyu, melihat saat bertelur atau melihat penyu kawin,'' kata Ibnu Masud.
   Kalau pulaunya sendiri, kata Ibnu, sangat tidak menjual. Pantainya sedikit. Laut di sekitar pulau banyak batu-batu dan susah untuk menyelam. Sarana transportasi ke Pulau Jemur juga belum tersedia dengan baik.(*)

Senin, 13 Mei 2013

Transaksi Kapal ke Kapal, TPI Tak Berguna




Menikmati Malam di Gugusan Kepulauan Arwah, Rokan Hilir (1)

Pulau Jemur, masuk ke dalam gugusan Kepulauan Arwah. Luasnya 250 hektare. Letaknya sekitar 72,4 km dari Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Riau dan 64,3 km dari Pelabuhan Klang di Malaysia. Persisnya pada koordinat 2 52'12.06"N-100 33'30.19"E.

Catatan Mhd Nazir Fahmi, Pulau Jemur

SETELAH menempuh perjalanan enam jam dari Bagansiapi-api, Kapal Ikan 30 GT berlogo Pemprov Riau yang kami sewa, buang jangkar di perairan antara Pulau Jemur dengan Pulau Labuhan Bilik. Bersama Ketua Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita) Riau, Drs Ibnu Masud dan beberapa orang wartawan foto media cetak Pekanbaru, ingin menyaksikan dari dekat seperti apa 'keindahan' Pulau Jemur.
   Sabtu, rombongan sengaja bermalam di tengah laut di gugusan Kepulauan Arwah tersebut. Selain ingin melihat pergerakan penyu, juga hendak menikmati kerasnya tarikan ikan-ikan besar di perair an yang terkenal memiliki potensi besar itu. Para ahli-ahli pancing ini, sudah lama terpancing dengan informasi banyaknya ikan di laut sekitar Pulau Jemur.
   Pulau Jemur saling berhadapan dengan Pulau Labuhan Bilik. Kalau di Pulau Jemur ada penghuninya, tapi di Labuhan Bilik tidak ada orang tinggal. Di Labuhan Bilik ada lima bangunan permanen. Ada Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang berdampingan dengan rumah Penghulu atau Kepala Desa. Ada Pos Pelabuhan Perikanan Pemkab Rokan Hilir dan disampingnya juga ada rumah Penghulu. Satunya lagi ada Kelenteng kecil.
   Tempat Pelelangan Ikan, terlihat tidak dipakai lagi. Ada atap dan kerangka beton. Tidak ada lantai. Tak jauh dari TPI, ada satu bangunan lagi yang mulai lapuk. Juga tidak ada penghuni. ''Itu rumah Penghulu,'' kata Syaiful, warga Bagansiapi-api kepada Riau Pos, saat berkunjung ke Pulau Jemur, akhir pekan lalu.
   Masih di pulau ini, di belakang hamparan pantai pasir putih, ada bangunan Pos Pelabuhan Perikanan dan Kelautan Rokan Hilir. Siang kantor ini dijaga petugas. Malam tidak. Di samping kantor itu juga ada bangunan dengan ciri khas Rohil. Ada kubahnya. Katanya sih, juga kantor Penghulu.
   ''Tidak ada penerangan di kantor. Dermaga tempat merapat kapal juga tidak tersedia. Sarana komunikasi di Pos Pelabuhan juga sudah lama rusak,'' kata Doni, warga yang sering bolak balik Bagansiapi-api-Pulau Jemur.
   Dibangunnya TPI di pulau ini ternyata untuk mengatur transaksi ikan dari kapal ke kapal di perairan Pulau Jemur. Pulau Labuhan Bilik tempat yang strategis untuk berlindung dari terpaan badai. Ada teluk berbentuk letter U dan di sinilah kapal-kapal nelayan merapat kalau ada badai. Di tempat ini pulalah terjadi transaksi antara satu kapal dengan kapal lain.
   Saat melewati tempat ini, terlihat enam kapal nelayan merapat. Mereka saling bertransaksi. Selain ikan, ada kapal yang menyedia kan berbagai macam keperluan pokok. Ada yang jual berbagai macam kue, air minum dan rokok. Di Pulau Labuhan Biliklah semua itu mereka lakukan. Sayang, TPI tidak berfungsi sebagaimana harapan awal sebelum bangunan ini berdiri.
   Dari Labuhan Bilik kita ke Pulau Jemur. Di pulau ini lebih terlihat kehidupan. Ada penghuni. Setidaknya ada 10 orang anggota TNI Angkatan Laut (AL) dan enam orang dari Distrik Navigasi Departemen Perhubungan. Di pulau ini ada Pos Pantau TNI AL dan Mercusuar. Petugas-petugas ini saling berganti dalam beberapa pekan.
   Saat menapaki pulau ini setelah berdayung 25 menit dengan sekoci milik Kapal Ikan 30 GT bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, dua orang petugas Navigasi begitu sumringah saat disalami. Mereka sangat senang ada yang berkunjung ke pulau ini.
   Dengan menaiki beberapa puluh tangga, baru sampai ke lokasi perumahan petugas Navigasi dan TNI AL. Pokok mangga sudah besar-besar. Buahnya lebat dan sebagian sudah dipanen. Terlihat ditum puk di meja sebuah pondok di depan rumah petugas Navigasi. Seor ang petugas mempersilakan untuk mencicipi mangga yang sudah ranum tersebut. Hmmm...manisnya. Tak lupa, saat kembali ke kapal, kami dibekali setengah karung mangga.
   Naik sedikit ke atas dari rumah petugas Navigasi, jumpa peru mahan TNI AL. Sore itu, seorang anggota TNI AL tengah asik mem beri makan ternak ayamnya. ''Yah, untuk mengisi waktu luang, kita beternak ayam. Selain bisa membuang rasa sepi, juga menghasilkan,'' kata Aripin, kepada Riau Pos.
   Di belakang kandang ayam Aripin, ada satu bangunan yang sudah tidak dirawat lagi. Ternyata itu bangunan kantor peninggalan Belanda. ''Bangunan ini sudah lama sekali dan tidak digunakan lagi. Sebagiannya sudah lapuk,'' kata Aripin lagi.
   Di Pulau Jemur juga ada Mess VIP milik Pemkab Rokan Hilir. Menurut Doni, mess ini diperuntukan bagi tamu VIP maupun wisata wan yang ingin menikmati liburan di gugusan Pulau Jemur. Mess dilengkapi dengan fasilitas penunjang seperti meubiler, listrik, air bersih dan sarana olahraga.
   Ketika lewat di depan Pulau Jemur, juga terlihat dua rumah. Masih baru. Atapnya merah. Posisinya di atas punggung bukit. Menurut Doni, itu adalah rumah untuk pegawai Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlut). Jadi bagi petugas Diskanlut yang berkantor di Pulau Labuhan Bilik, tinggalnya di Pulau Jemur.
   Rumah ibadah juga ada di Pulau Jemur. Ada musala yang bagus. Tapi sayang tidak terpakai. Posisinya sekitar 100 meter dari perumahan Navigasi. Agak ke lembah. ''Jarang sih digunakan,'' kata seorang petugas Navigasi.
   Ada juga tempat duduk-duduk. Lebih tepatnya taman yang ada peneduhnya. Juga permanen. Sayang juga, tidak terawat. Tumbuhan sudah merimba di taman itu. ''Padahal kalau duduk di sana, kita bisa menyaksikan keindahan laut dan Selat Melaka,'' kata petugas itu lagi.
   Saat akan meninggalkan Pulau Jemur, kami diingatkan agar hati-hati di jalan. Hati-hati menginjak rumput apalagi kalau hanya pakai sandal jepit. Amannya pakai sepatu. Ada Ular Merah di Pulau Jemur yang cukup berbahaya.(bersambung)

Jumat, 12 April 2013

Serba 2 Riyal, Ribuan Ton Besi Bekas Dibawa ke Jeddah

Kawasan Misfalah, Kota Mati di Pelataran Masjidil Haram (2-habis)

Kawasan Jabal Umar tak jauh dari Safa saat ini masih dalam pengerjaan. Hotel-hotel bintang 5 ke atas bakal beroperasi di sini. Sementara tak lama lagi, kawasan Misfalah pun akan dibongkar. Jalanan menuju Masjidil Haram pun bakal sempit dan akan terjadi macet panjang jelang salat lima waktu. Toko-toko di kawasan Misfalah yang sudah diputus listriknya sebagian besar sudah angkat kaki. Partisi-partisi dari kaca dan triplek dibuka dengan hati-hati untuk dipakai kembali oleh pemiliknya.
   Ada kesan iba ketika melihat mereka membongkar toko, sementara konsumen sangat banyak lalu-lalang. Yang punya modal besar, ada yang langsung mendapatkan toko pengganti di luar Misfalah, bagi mereka yang bermodal kecil dan belum dapat toko pengganti, mereka ada yang masih berjualan dengan diterangi lampu kecil nan redup kalau tidak harus beli genset kecil.
  Obral atau jual murah, itulah yang dilakukan para pedagang di kawasan Misfalah. Tempat jualan yang sudah ditenggat waktu dan harus segera pindah lebih utama daripada mendapatkan untung dari barang dagangan. Pokoknya barang dagangan habis, modal kembali, jual murah itulah yang mereka lakukan. Sebuah toko menjual sepatu dan perlengkapan buat perempuan tak jauh dari Hotel Alhuda Karim menjual semua barang dengan harga 2 riyal. Anyone 2 Riyals. Begitu plang besar di depan toko tersebut.
  Tak pelak, jamaah yang akan pergi maupun pulang dari Masjidi Haram mampir sekedar melihat barang yang cocok. Suka, rogok kocek 2 riyal, barang dibawa. Halal-halal di sini, murah kata penjaga toko berperawakan Arab yang bisa bahasa Indonesia. Kalau kondisinya sudah begini, jangan disebut lagi berapa orang yang berkerumun di toko tersebut.
  Itulah keistimewaan Makkah maupun Madinah, apapun barang yang ditawarkan pedagang, pasti laris manis. Apatah lagi ada embel-embel diskon besar, bakal makin besar kerumunan jamaah yang habis salat lima waktu di tempat tersebut.
  Di depan Hotel Alfirdaos, tak jauh dari sebuah masjid di kawasan Misfalah juga, sebuah toko pakaian juga ikut menggelar obral. Diterangi lampu emergency, toko yang dindingnya dan plangnya sudah dibuka terlihat sibuk memotong kain meteran. Jamaah umrah dari Turki dan Pakistan berkerumun di tempat tersebut.
  Satu-satu juga terlihat jamaah asal Asia Tenggara berdiri sambil melihat-lihat dasar kain. Ya, satu meter dijual 2 riyal atau Rp5.000. Semuanya rata dan kainnya bermerek. Di tempat kita mungkin paling murah kain meteran Rp20.000 dan itu bisa jadi kualitas rendah. Onggokan batangan kain tidak lagi banyak tersisa.
  Tapi, pemilik toko benar-benar harus menghabiskan barang dagangannya daripada harus menyewa mobil lagi untuk pindahan. Ada sih berniat hendak membeli, tapi teringat lagi berapa biaya untuk upah jahit. Lain orang Pakistan, kain yang baru dibeli dengan meteran tersebut langsung jadi selendang atau jubahnya tanpa dijahit.
  Hotel-hotel tak ketinggalan melego barang-barangnya. Kulkas, AC, televisi hingga tempat tidur mereka jual murah. Terlihat beberapa pemuda Arab mengangkat televisi dari hotel setelah terjadi tawar menawar dengan pegawai hotel. Banyak juga jamaah yang berdiri di depan hotel-hotel tersebut sambil memeriksa elektronik yang masih teronggok di depan hotel. ‘’Sayang kita jauh, coba kalau dekat, saya ikut beli,’’ kata seorang jamaah umrah Indonesia yang terdengar berbincang dengan temannya.
  Bagi pebisnis barang bekas, melihat kondisi Makkah yang dalam masa rekonstruksi membuat air liur menetes. Banyaknya barang-barang bekas yang masih bisa diolah dan teronggok begitu saja, jadi susah mau disebut. Apalagi melihat onggokan besi bekas reruntuhan hotel, makin tak karuan melihatnya. Wah coba di Indonesia, berapa omsetnya ini, gumam beberapa jamaah sambil sarapan pagi di hotel.
  Ya, soal besi bekas, memang tak terhitung tonannya. Hitung saja berapa jumlah hotel dan bangunan lain yang dirubuhkan. Semuanya pakai besi. Baru saja memasuki Kota Makkah disekitar Jabal Umar sudah terlihat alat-alat berat mencabut besi-besi dari reruntuhan bangunan. Lalu dinaikkan ke trailer. Jadi siapa yang beli atau dibawa kemana besi-besi tersebut?
  ‘’Yang jelas bukan orang Indonesia yang beli dan pengumpulnya haa...haaa...haaa,’’ kata Pimpinan PT Muhibbah Mulia Wisata, Ibnu Masud sambil bercanda. Semua besi-besi bekas itu dibawa ke Jeddah untuk diolah lagi. ‘’Di Jeddah kan ada industri pengolahannya,’’ kata Ibnu.
  Memang benar, ribuan ton besi bekas tersebut dibawa ke Jeddah, sekitar 1,5 jam dari Makkah. Karena kontraktornya Bin Laden Group, besi-besi itu pun dibawa ke pabrik pengolahan besi masih milik Bin Laden di Jeddah. Besi-besi itu diolah lagi menjadi batangan dan dipakai kembali untuk rekonstruksi Masjidil Haram.(mhd nazir fahmi)

Listrik Diputus, Hotel-hotel Dikuliti

Kawasan Misfalah, Kota Mati di Pelataran Masjidil Haram (1)

Mudahnya transportasi saat ini dari berbagai penjuru dunia, membuat Kota Makkah Al Mukarramah merasakan dampaknya. Umat muslim dunia yang saat ini sudah lebih dari 1 miliar jiwa memanfaatkan kemudahan itu untuk datang ke Makkah dalam bentuk umrah maupun haji. Akibatnya, Masjidil Haram benar-benar tidak sanggup lagi menampung. Solusinya, sudah dua tahun ini dilakukan perluasan di sekitar Jabal Umar. Ratusan hotel di Misfalah juga sudah diputus listriknya untuk segera dirobohkan.
   Berjalan di kawasan Misfalah membawa nuansa lain saat ini. Kawasan yang berada di belakang Zamzam Tower, jam besar yang menjulang ke langit itu kini bagaikan kota mati. Tak kurang dari 200 hotel bintang 4 ke bawah sudah gelap gulita. Listriknya sudah diputus kerajaan Saudi. Begitu juga ratusan kedai-kedai kecil tempat jamaah haji Indonesia berbelanja berbagai macam oleh-oleh juga sudah tutup.
  Ada sekitar 10 toko yang masih buka. Mereka membayar ke pihak kerajaan dengan alasan menghabiskan barang dagangan. Ini karena sebagian dari mereka tidak mendapat tempat jualan pengganti selain di kawasan Misfalah. Dengan menggunakan genset, beberapa toko tersebut menggelar barang dagangannya pada malam hari.
  Perasaaan sedih, iba maupun serasa habis gempa bumi ketika memandang hotel-hotel yang akan diruntuhkan. ‘’Sejak Januari lalu listrik hotel-hotel tersebut sudah diputus dan mereka harus pindah ke tempat lain,’’ kata Ibnu Masud, pimpinan PT Muhibbah Mulia Wisata beberapa waktu lalu di Makkah. Makanya, kata Ibnu, saat ini banyak penginapan jamaah umrah agak jauh dari Masjidil Haram.
  ‘’Ya, sekitar 350 meteranlah dari masjid. Biasanya dulu kita sering nginap di Misfalah yang dekat dengan pintu 87, 88 dan 89. sekarang tak ada pilihan selain di luar Misfalah tersebut seperti di Jalan Ibrahim Al Khalil. Ini sangat dekat juga dengan Masjid Haram,’’ katanya lagi.
  Kawasan Misfalah ini termasuk favorit di kalangan jamaah. Dari pintu 86 sampai 89, jalan menuju Misfalah lurus saja. Jalannya besar dan benar-benar dekat dengan Masjidil Haram. Banyak orang berjualan makanan maupun kebutuhan sehari-hari selain oleh-oleh untuk dibawa ke tanah air. Ada pula mal besar seperti Bin Dawood dan Zamzam Tower, membuat kawasan ini benar-benar terkenal.
  Karena banyaknya jamaah yang lewat setiap waktu, membuat hotel-hotel yang sebagiannya sudah dibuka jendela dan dindingnya telah dikuliti tidak begitu menyeramkan. Apalagi pihak kerajaan sengaja memasang lampu jalan untuk kepentingan jamaah yang lewat.
  Tapi harus ekstra hati-hati melewati kawasan tersebut, selain banyaknya kaca-kaca berserakan di depan hotel, terkadang banyak genangan air karena pipa yang bocor akibat hotel dan kedai-kedai yang dibongkar.
Pemilik hotel diburu waktu untuk segera angkat kaki dari kawasan Misfalah. Ada satu dua hotel yang masih beroperasi karena terikat kontrak dengan travel. Tapi setelah kontraknya habis, semua isi hotel dikeluarkan.
  Tempat tidur, lemari, selimut, bantal dinaikkan ke truk dalam rangka pengosongan hotel. Dinding hotel yang dilapisi granit juga ada yang dibuka pemiliknya. Satu persatu granit dibuka dari lantai 15 dan diturunkan dengan hati-hati. Yang pecah dibuang, yang masih bagus dipakai kembali di tempat baru. Kini beberapa hotel seperti telanjang bagai habis dikuliti.
  Kok bisa begitu cepat dikosongkan? Ya, itulah kerajaan. Suka atau tidak suka, kalau kerajaan sudah memutuskan sesuatu harus dilaksanakan oleh rakyatnya. Apalagi itu untuk kepentingan umum, rela atau tidak rela ya harus rela. Ada sih ganti rugi, tapi sangat tidak sebanding dengan nilai bangunan.
  Seperti hotel berlantai 15, paling ganti ruginya sekitar 5 juta riyal. ‘’Ya namanya juga ganti rugi, mereka merasa rugi. Tapi demi Masjidil Haram, mereka mengikhlaskan,’’ kata Lutfi, salah seorang pekerja travel yang sudah bertahun-tahun di Makkah.
  Di kawasan Misfalah ini, kalau hotel-hotel bintang 4 ke bawah sudah diputus listrik dan segera dirubuhkan. Saat ini yang masih beroperasi Hotel Hilton dan Daarut Tauhid. Nanti hotel besar ini juga akan dirubuhkan karena masuk ke dalam kawasan Masjidil Haram. Sementara Zamzam Tower tidak masuk atau tidak terkena pelebaran dan masuk kawasan aman.
  Dua alat berat, awal Maret lalu terlihat terparkir di depan hotel di Misfalah. Nantinya, alat-alat inilah yang akan menghancurkan hotel-hotel tersebut. Banyak yang memperkirakan kawasan tersebut akan dihancurkan dengan diledakkan karena begitu banyaknya gedung yang diruntuhkan. ‘’Mereka biasanya menghancurkan dengan alat berat, yang dibom atau dinamit bukit-bukit batu. Di kawasan Jabal Umar yang lagi dibangun, hotel-hotelnya diruntuhkan dengan alat berat,’’ kata Lutfi. Misfalah benar-benar seperti habis perang atau terkena bencana. Jalanan di kawasan ini selalu macet setiap salat lima waktu. Beberapa tahun mendatang, bekas hotel akan jadi pelataran Masjid Haram.(mhd nazir fahmi/bersambung)

Desa Wisata versus Sate Danguang Danguang

DINGINNYA Lembah Harau, terusir oleh setongkol jagung bakar. Sebungkus sate, terhidang. Aromanya mengelitik perut. “Ini sate danguang dangua...