Total Tayangan Halaman

Selasa, 21 Mei 2019

Kampar Bisa!

DESTINASI wisata alam di Kabupaten Kampar, bagus-bagus. Alamnya mendukung untuk dikembangkan menjadi tujuan wisata di Provinsi Riau. Ada danau besar. Walau hanya danau buatan PLTA Kotopanjang. Banyak air terjunnya. Sungainya juga jernih. Pokoknya, mantaplah kalau dikembangkan.
     Nilai plus lagi, sebagian besar lokasi wisata di Kabupaten Kampar aksesnya sudah tersedia. Berada di perlintasan jalan-jalan utama. Ada sih beberapa tempat wisata yang jalannya tidak layak. Perlu perbaikan tentunya. Tapi Kampar sudah punya modal besar dalam dunia pariwisata.
     Kampar bisa maju dengan bisnis pariwisata. Tertumpang harapan kepada pemimpin baru. Pak bupati baru tentunya. Wisata Kampar tinggal memoles sedikit saja Pak Bupati. Bersolek sedikit, makin rancak-lah. Jalan-jalannya kembali dipoles agar nyaman berwisata. Kampar pasti bisa!(*)

Senin, 20 Mei 2019

Take Action!

MEMBANGUN pariwisata harus dikelola bagaimana membangun sebuah bisnis. Kalau ingin pariwisata maju, harus ada pengelolaan yang serius. Tidak boleh sebatas wacana. Harus take action! Ide yang ada segera direalisasikan. Kalau tidak, bisnisnya akan tenggelam. Dilupakan orang. Kalau sudah seperti itu, pariwisatanya bisa mati.
     Riau yang dulu hanya dikenal sebatas minyak bumi, ternyata menyimpan beragam kekayaan alam. Dulu memang dilupakan soal pariwisata ini. Tapi kini, berbagai pihak di negeri ini, sudah menggelorakan pariwisata. Bisnis pariwisata pun tumbuh subur. Tingkat kunjungan ke Riau pun terus meningkat.
     Ya…take action-nya sudah kelihatan. Tapi harus lebih fokus lagi membisniskan ceruk-ceruk pariwisata di Riau ini. Para pemangku kepentingan di daerah ini harus memandang pariwisata ini sebagai bisnis. Tujuannya agar serius menggarapnya. Kalau masih sebatas wacana-wacana, tak usahlah lagi.(*)

Sabtu, 18 Mei 2019

Keramba PLTA

DANAU PLTA Koto Panjang, berpotensi besar dikembangkan jadi destinasi baru yang unggul. Alamnya yang elok, cantik dan mempesona, kini benar-benar jadi daya tarik. Posisinya yang berada di jalan lintas Riau-Sumatera Barat, makin mengukuhkan destinasi ini tempat yang mudah terjangkau.
      Bentangannya yang luas, membuat danau ini anggun dilihat dari atas perbukitan. Jarak tempuh dari Pekanbaru, masih dalam standar Kementerian Pariwisata. Satu jam setengah perjalanan dari Pekanbaru, kita sudah bisa menikmati keindahan danau ini. Andai jalannya makin lebar atau selesainya tol Pekanbaru-Bukittinggi, tentu makin dekat nih danau.
     Satu yang harus di wanti-wanti betul adalah keberadaan keramba. Berkaca kepada Danau Maninjau di Sumatera Barat yang kini ditinggalkan wisatawan. Bau amis ikan. Kalau keramba tidak terkontrol di PLTA Koto Panjang, bisa bernasib sama dengan Danau Maninjau. Sebelum terlambat, saatnya semua itu dicegah. Mencegah lebih mudah dari mengobati.(*)

Rabu, 15 Mei 2019

Pegiat Wisata yang Giat


MELIHAT aktifitas para pegiat wisata di Riau saat ini, patut diacungi jempol. Makin getol saja menjual paket-paket perjalanan wisata. Walau sebagian besarnya baru sebatas menjual kepada wisatawan lokal dan dalam satu group WA, tapi ini langkah sangat maju demi pariwisata Riau ke depan.
      Saya lihat, para pegiat wisata menjual paket tidak untuk mendapatkan untung materi. Semuanya sebatas semangat 45 untuk memajukan wisata di daerah mereka masing-masing. Mereka ingin mengenalkan keunggulan daerahnya. Memperlihatkan kemolekan alam tanah kelahirannya.
      Selagi bersemangat, pemerintah daerah harus menyokong mereka. Toh, yang mereka kerjakan adalah bagian pekerjaan dari pemerintah. Terkhusus kerja Dinas Pariwisata tentunya. Pemerintah harus lebih mengambil bagian di pegiat-pegiat wisata tersebut. Walau hanya sekedar memberi pelatihan buat mereka. Atau memberikan reward buat mereka. Atau sekedar mengucapkan terima kasih.(*)

Selasa, 14 Mei 2019

Bus Air...Bus Air


PEMERINTAH Kota Pekanbaru menghidupkan lagi Bus Air Senapelan. Dulu, pernah hidup. Tapi sepi penumpang. Kapal yang mengarungi Sungai Siak di wilayah Kota Pekanbaru tersebut, kini diaktifkan lagi. Cuma, jadwalnya hanya Sabtu dan Ahad saja. Khusus untuk wisatawan. Untuk tahun ini, Pemko pun sudah menganggarkan biaya operasionalnya. Tapi ternyata tahun 2019 sudah tidak ada lagi bus airnya.
     Bagaimana agar tidak mati lagi? Penting ada sinergi antara pemerintah dengan pihak swasta. Apalagi mengelola wisatawan. Manajemen melayani wisatawan, tidak sama dengan melayani masyarakat. Tidak boleh ala kadar saja. Asal selesai. Melayani wisatawan, sama dengan melayani pembeli. Wisatawan adalah raja.
     Saya setuju Pemko menggandeng swasta untuk mengelola bus air tersebut. Terutama swasta yang punya orientasi bisnis pariwisata. Mereka bisa meng-conect-kan bisnisnya dengan sarana yang ada tanpa ada lagi sekat-sekat. Mereka bisa dengan mudah mengatur jadwal paket-paket perjalanan berwisata Kota Pekanbaru. Jadi bisa satu paket barang itu.(*)

Senin, 13 Mei 2019

Chaophraya v Sungai Siak

BAGI yang pernah berwisata di Thailand, pasti mengenal Sungai Chaophraya. Ini tempat wisata wajib dikunjungi. Terutama bagi wisatawan yang menggunakan jasa perjalanan. Dengan menaiki kapal wisata, wisatawan diajak memberi makan ikan patin yang banyak di sungai itu. Beli roti seharga 20 bath, lalu diberi ke ikan. Bagi yang melihat ikan patin putih, maka itu keberuntungan luar biasa. Itu sih mitosnya.
    Sungai Chaophraya tak beda jauh dengan Sungai Siak. Kedua sungai ini sama-sama membelah kota. Banyak jembatan. Ada kapal wisatanya. Yang membedakan hanya pengelolaannya. Kalau Sungai Chaophraya, pengelolaan wisatanya sangat serius. Sungai Siak, seperti hangat-hangat tahi ayam kampung. Tak serius.
    Padahal, kita bisa seperti Chaophraya. Bus air sudah tersedia. Walau hanya Sabtu-Ahad saja. Ikan patin kita banyak. Tinggal membuat kawasan ikan larangan di Sungai Siak. Ditambatkan makannya pada satu tempat. Ikan itu akan di sana terus. Walau air pasang. Dengan begitu, wisatawan juga bisa memberi makan ikan patin. Dibuat-buat juga ceritanya agar orang mau beli roti untuk beri makan ikan patin. Mudahkan?(*) 

Sabtu, 11 Mei 2019

Ohh…Candi Muara Takus


CANDI Muara Takus, sudah sangat lama terkenal. Dalam pelajaran sejarah, candi ini selalu disebutkan. Situs Candi Muara Takus adalah sebuah situs candi Buddha yang terletak di desa Muara Takus, Kecamatan XIII KotoKabupaten KamparRiau. Situs ini berjarak kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru. Pada tahun 2009 Candi Muara Takus dicalonkan untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.
     Jika ingin berwisata, jangan ke Muara Takus, ntar menyesal. Kalau ingin berinvestasi wisata jangan di Muara Takus...nanti rugi,” kata seorang teman membuat status dalam media sosial. Kontan saja, status ini banyak ditanggapi berbagai pihak. Ada yang menanggapi positif dan negatif.
      Coba saja Candi Muara Takus ada di Muara Fajar, Rumbai. Dekat dengan Pekanbaru. Seperti Candi Borobudur yang dekat dengan pusaran kota. Orang pasti datang. Mudah mengaturnya. Mudah mengelolanya. Mudah menjualnya. Tapi, candi itu ada di Muara Takus. Jalannya masih kurang bagus. Pengelolaannya apa lagi. Ini tantangan buat pemerintah daerah agar Candi Muara Takus jadi benar-benar terkendali.(*)

Desa Wisata versus Sate Danguang Danguang

DINGINNYA Lembah Harau, terusir oleh setongkol jagung bakar. Sebungkus sate, terhidang. Aromanya mengelitik perut. “Ini sate danguang dangua...